- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Iya dong.
Selain kohesi sosial, apa yang menyebabkan isu SARA ini kembali ke permukaan?
Saya kira tidak ada faktor tunggal ya dalam situasi seperti ini. Tentu ketidakadilan juga mempunyai peran dalam mendorong cepatnya terjadinya isu SARA ini, baik ketidakadilan secara sosial maupun ketidakadilan ekonomi. Terutama ketidakadilan ekonomi.Â
Apakah faktor politik juga berperan?
Ya pasti. Kalau politik itu kan hanya nunggangi saja sebenarnya. Jadi politik itu kan selalu mencari celah, dan yang paling mudah digunakan atau meleverage tujuan-tujuan atau keinginannya. SARA itu paling mudah menyatukan dan paling mudah juga sebaliknya, merusak persatuan.
Jadi Isu SARA itu saya selalu katakan sama dengan pertandingan sepak bola, untuk membuat orang bersatu itu gampang, memecah belah juga gampang. Nah, politik itu bertemu di titik itu, politik memanfaatkan isu SARA ini untuk meleverage keinginan politik.
Banyak orang menyatakan bahwa menguatnya isu SARA ini muncul gara-gara Pilkada Jakarta. Apa benar. Tanggapan Anda?
Iya. Saya kira Pilkada Jakarta telah menemukan kelompok Islam Radikal dan kelompok Islam Politik. Artinya kelompok Islam yang memahami Islam secara radikal dan kelompok Islam yang memahami Islam digunakan sebagai alat untuk politik, bertemu di Jakarta dan jadinya seperti ini, dan menular ke daerah-daerah lain. Karena Jakarta kan barometer, apa yang terjadi di Jakarta saya kira akan menjadi contoh untuk daerah lain.Â
Tahun depan akan ada Pilkada serentak. Apakah isu SARA ini akan kembali digunakan?
Ya, bisa saja itu terjadi. Tetapi saya meyakini dari sekian banyak daerah yang akan melakukan pilkada serentak, yang paling mungkin terjadi menguatnya isu SARA itu hanya di Jawa Barat. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur juga akan melakukan Pilkada serentak, tapi saya kira kultur masyarakatnya agak sulit di sana. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk kelompok Islam Radikal bertemu dengan kelompok Islam Politik agak berat.Â
Jadi apa bisa dikatakan bahwa Pilkada Jakarta kemarin menjadi salah satu pemicu menguatnya isu SARA?