- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Iya, kalau kita lihat Pilkada Jakarta itu yang paling kuat dimainkan memangnya apa? Isu SARA kan? Dan efektif menggunakan isu SARA itu di Jakarta.
Lalu bagaimana Ansor menyikapi menguatnya radikalisme dan isu SARA ini?
Kita melakukan kaderisasi terus menerus. Itu yang paling pokok yang kami lakukan dengan asumsi semakin banyak kader Ansor itu maka akan semakin banyak mengurangi peluang menyebarnya gerakan-gerakan radikal.Â
Kedua, tadi saya katakan bahwa salah satu penopang munculnya paham radikalisme itu kan karena ketimpangan ekonomi jadi itu harus diselesaikan juga masalah kesenjangan ekonomi itu. Maka menurut saya, kalau negara ini serius ingin menghambat gerakan kelompok radikal, maka negara harus menyelesaikan persoalan ekonomi rakyatnya.
Negara harus memperpendek jurang antara yang kaya dan yang miskin. Artinya negara harus hadir dalam menyelesaikan persoalan kesenjangan ekonomi masyarakat.
Kaderisasi itu kan agenda internal, kalau ke luar apa yang dilakukan Ansor?
Kita dakwah ke kampung-kampung. Kita ini punya yang namanya Rijalul Ansor, perkumpulan dai-dai muda yang kita bekali dengan pengetahuan-pengetahuan nasionalisme, pengetahuan kebangsaan dan lainnya. Itu dilakukan untuk membentengi umat atau jamaah kita.Â
Belakangan ini kelompok-kelompok islam garis keras kerap melakukan intimidasi dan kekerasan. Tanggapan Anda?
Ya, kalau mereka itu hari ini berani menekan, melakukan intimidasi, itu kan karena mereka hari ini merasa berada di atas angin saja. Kalau bicara jumlah mereka juga tidak banyak kok. Makanya saya selalu bilang, kita ini yang memiliki jumlah yang banyak harus berani bersuara lantang, harus berani melawan.
GP Ansor merespons secara langsung beberapa kasus intimidasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ormas islam yang melakukan intimidasi.
Artinya Banser siap berhadap-hadapan dengan ormas-ormas islam garis keras?
Iya. Karena menghadapi atau berhadapan dengan mereka itu kita sudah sangat siap lahir batin. Karena yang kita perjuangkan itu bukan hanya sekedar bangsa dan negara, tetapi juga kemanusiaan. Jadi apa yang kami pikirkan saat ini adalah memikirkan manusia secara luas, bukan manusia golongan-golongan atau kelompok-kelompok tertentu saja. Karena bagi kami, kami akan berhenti menjadi manusia ketika kami berhenti memikirkan tentang kemanusiaan.Â