Taliban Akan Blokir Akses Facebook di Afghanistan

Taliban Afghanistan
Sumber :
  • X

Afghanistan – Pihak Taliban dari Afghanistan telah mengumumkan bahwa mereka berencana untuk membatasi atau memblokir sepenuhnya akses ke sosial media Facebook di negara tersebut, sebuah tindakan yang dikutuk oleh aktivis hak asasi manusia sebagai “pemblokiran berekspresi”.

img_title Pasukan Afghanistan-Pakistan Baku Tembak di Perbatasan Garis Durand

Penjabat menteri telekomunikasi dan teknologi informasi Taliban, Najibullah Haqqani membenarkan rencana tersebut dalam sebuah wawancara dengan TOLO News yang berbasis di Kabul pekan lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Haqqani mengatakan bahwa pemblokiran platform media sosial tersebut adalah “demi kepentingan bangsa.” Ia menambahkan bahwa karena pemuda Afghanistan tidak berpendidikan untuk menggunakan Facebook dalam “cara yang positif”, penggunaannya “hanya membuang-buang waktu dan uang.”

img_title Meta Nonaktifkan Ratusan Ribu Akun, Facebook Jadi Sorotan!

Meta (Facebook).

Photo :
  • The Guardian

Rezim Islam garis keras tersebut juga telah melarang halaman Facebook untuk outlet berita asing termasuk BBC, Voice of America dan Radio Free Europe/Radio Liberty yang didanai Kongres AS, dan lembaga penyiaran publik Jerman Deutsche Welle (DW) tetapi halaman-halaman tersebut masih dapat diakses oleh pembaca di dalam negeri, kata Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) per hari Senin, melansir The Independent, Sabtu, 13 April 2024.

img_title 9 Juta Akun TikTok Anak Dinonaktifkan, Instagram 85 Ribu-Facebook 99 Ribu

Para jurnalis dan aktivis Afghanistan melihat usulan tersebut sebagai upaya untuk semakin membatasi kebebasan berekspresi dan kebebasan media. Keputusan untuk membatasi atau memblokir Facebook di Afghanistan akan menjadi “pukulan lebih lanjut terhadap kebebasan informasi” di negara yang dilanda perang tersebut, kata CPJ.

Pernyataan tersebut juga merujuk pada penahanan jurnalis di Afghanistan, penutupan situs berita Afghanistan dan pembatasan akses ke media asing.

Koordinator program CPJ di Asia, Beh Lih Yi, mengutuk rencana terbaru rezim sementara Taliban.

“Platform media sosial, termasuk Facebook, telah membantu mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh penurunan industri media Afghanistan sejak pengambilalihan Taliban pada Agustus 2021 dan tindakan keras terhadap kebebasan pers yang terjadi setelahnya. Usulan larangan tersebut menyoroti sensor yang semakin buruk yang dilakukan oleh Taliban,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

CPJ menunjukkan bahwa Facebook adalah salah satu platform media sosial paling populer di Afghanistan untuk menyebarkan berita dan informasi di negara tersebut.

Hanya sehari setelah Taliban menguasai Afghanistan pada Agustus 2021 dari tangan AS, Facebook mengatakan akan terus melarang konten Taliban dari platformnya, dengan menyebut kelompok itu sebagai organisasi teroris.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut