Curhat Pilu Wali Kota Jakarta Utara karena Ahok

Wali Kota Jakarta Utara, Rustam Effendi (tengah).
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Danar Dono

VIVA.co.id – Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang beberapa hari lalu dibuat pusing dengan banjir yang terjadi di kawasan Pademangan sempat mencurigai Wali Kota Jakarta Utara, Rustam Effendi memihak kepada calon rivalnya, Yusril Ihza Mahendra. Ternyata pernyataan Ahok itu menurut Rustam sangat menyakitkan. 

Survei SMRC: Ahok Kalahkan Yusril dan Risma

Rustam mencurahkan rasa hati (curhat) tersinggung terkait kecurigaan itu melalui akun Facebook. Akun dengan nama Rustam Effendi tersebut memajang posting-an dengan judul "Bekerja dengan Hati, Suatu Ironi" dan diakui benar sebagai tulisannya.

Rustam menegaskan bahwa dirinya sudah bekerja seoptimal mungkin dan sepenuh hati untuk warga Jakarta Utara. Menurutnya, kecurigaan Ahok dengan menuding dirinya memihak Yusril menyakitkan baginya. Apalagi kecurigaan itu dilontarkan di depan muka publik.

Kalkulasi Yusril, Elektabilitasnya Bakal Lampaui Ahok

Isi posting-an Rustam Effendi yang dikutip VIVA.co.id pada Sabtu 23 April 2016:

Bekerja dengan hati, suatu ironi.

Ikut Uji Kelayakan PDIP, Yusril Pasrahkan Nasib ke Megawati

Apa yang saya kerjakan selama ini adalah bentuk pengabdian dan tanggung jawab dari jabatan yang saya emban. Saya sadar-sesadarnya bahwa apa yang saya lakukan di Jakarta Utara mulai 2 Januari 2015 sampai dari saat ini belum apa-apa dan belum banyak membawa kebaikan bagi wilayah dan masyarakat Jakarta Utara. Kedudukan Kota Administrasi di Provinsi DKI Jakarta yang tidak otonom (otonomi berada di TK Provinsi) menjadi kendala tersendiri bagi para wali kota di Provinsi DKI Jakarta untuk berkreasi dan secara cepat menyelesaikan permasalahan yang ada di wilayahnya.

Harapan untuk secara cepat dapat mewujudkan tuntutan dan harapan
masyarakat juga menjadi persoalan tersendiri. Tetapi dengan segala keterbatasan kewenangan tersebut saya berupaya bekerja semaksimal mungkin untuk mewujudkan kebaikan bagi wilayah dan masyarakat Jakarta Utara.

Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa dalam masa jabatan saya yang relatif baru belum banyak yang saya perbuat bagi Jakarta Utara. Tetapi selama ini saya dengan sepenuh hati, pikiran dan tenaga saya curahkan bagi wilayah dan masyarakat Jakarta Utara. Berpikir, berbicara dan
berbuat yang terbaik bagi wilayah dan masyarakat Jakarta Utara adalah obsesi saya. Jika ada sedikit perbaikan yang dirasakan di Jakarta Utara seperti agak berkurangnya daerah genangan di Jakarta Utara, atau Jakarta Utara sedikit lebih bersih atau juga yang masih segar dalam
ingatan kita yaitu lenyapnya kawasan lokalisasi prostitusi Kalijodo, saya selalu mengatakan bahwa itu adalah hasil kerja tim dan atas dukungan masyarakat, saya tidak pernah mengklaim bahwa pekerjaan itu prestasi kerja saya sendiri.

Bekerja dan memberikan yang terbaik menjadi tekad saya. Sudah sering saya ungkapkan bahwa apa yang saya lakukan dalam pelaksanaan tugas saya lakukan secara maksimal dan secara ikhlas tanpa berharap saya mendapat apa dan saya tidak berharap mendapatkan jabatan atau
peningkatan karier yang lebih tinggi lagi. Jabatan wali kota saja bagi saya sudah merupakan sesuatu anugerah yang sangat luar biasa dan saya menganggap inilah puncak perjalanan karier saya yang dimulai dari tenaga magang (sekarang disebut PHL) di Kantor Kelurahan Rawabuaya
Cengkareng Jakarta Barat. Hanya satu keinginan saya yaitu dapat menyelesaikan tugas dan karier saya secara baik.

Di ujung karier saya ini, saya ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak sebagai bekal hidup saya di akhirat kelak.

Saya juga sangat menyadari bahwa banyak kekurangan, kelemahan dan keterbatasan saya, walau saya berupaya pada setiap waktu memperbaiki kelemahan dan kekurangan tersebut. Tetapi kelemahan, kekurangan atau juga kealpaan adalah sifat manusia yang sulit dielakkan. Dengan kesadaran tersebut maka dalam pikiran saya dikoreksi dari berbagai pihak atas pelaksanaan pekerjaan saya adalah suatu keharusan. Apalagi koreksi atau bahkan kemarahan dari pimpinan adalah suatu kewajaran bagi perbaikan ke depan. Oleh karena itu marahnya pimpinan saya anggap cambuk untuk perbaikan ke depan.

Saya tidak pernah sakit hati atas marahnya pimpinan kepada saya, karena saya selalu berpikir bahwa pimpinan pasti lebih baik, lebih tahu dan lebih bijak dari bawahan khusus untuk penertiban/pembongkaran, saya tidak pernah ragu apalagi takut melaksanakan tugas itu. 

Sebagaimana yang saya tunjukkan pada saat penertiban di beberapa bagian wilayah di Jakarta Utara termasuk di Jalan Tubagus Angke, Kali Karang, Kali Cakung Lama, Anak Kali Ciliwung Ancol, Lokalisasi Kalijodo, Pasar Ikan dan di beberapa tempat lainnya. Cuma memang dalam
penertiban/pembongkaran yang menyangkut orang banyak saya bertindak ekstra hati-hati, dengan perhitungan matang dan harus terkoordinasi dengan unit-unit terkait dan melalui pengkondisian secara baik. Ini mungkin terkesan atau dilihat oleh orang lain saya terlalu lamban.

Satu hal yang menjadi kunci dalam penertiban/pembongkaran pemukiman adalah "ketersediaan dan kelayakan rumah susun sebagai tempat relokasi penghuni/penduduk yang akan ditertibkan". Ini suatu keharusan yang tidak boleh ditawar.

Walau saya berlatar belakang pendidikan di bidang ilmu politik dan juga berkawan dengan orang politik (sesama mantan aktivis pada saat muda/mahasiswa), tapi dengan kesadaran penuh bahwa dalam pelaksanaan tugas saya sebagai PNS/Aparatur Sipil Negara, saya tidak mau mengaitkan pelaksanaan tugas dengan kepentingan politik orang/golongan tertentu. Jadi jika ada yang menilai bahwa saya bersekutu dengan tokoh politik ataupun bakal calon gubernur/wakil gubernur dalam Pilkada DKI Tahun 2017 saya nyatakan tidak benar dan tidak beralasan sama sekali.

Dengan ini saya nyatakan bahwa tuduhan saya bersekutu dengan Pak Yusril adalah tidak benar.

Secara jujur saya katakan bahwa kadang-kadang selaku bawahan saya juga mengharapkan mendapatkan ucapan terima kasih dari pimpinan atas hasil kerja yang telah dilakukan, hal ini penting sebagai bekal semangat pelaksanaan tugas selanjutnya. Tetapi jika itu tidak ada tidaklah mengapa dan saya akan terus melaksanakan tugas berikutnya dengan semangat. Berbeda dengan tuduhan yang menjurus fitnah apalagi keluar dari mulut pimpinan adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Dan lebih menyedihkan tuduhan dan fitnah itu keluar dari pimpinan yang
sebenarnya saya berharap memberikan petunjuk, arahan, bimbingan, memotivasi, memberi semangat dan itu dipertontonkan di muka jagat raya.

Apakah ini yang disebut bekerja dengan hati?

Wallahu Khairul Makiriin.


Rustam Effendi, Walikota Jakarta 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya