Muncul Fenomena Kerajaan di Jabar Bikin Ridwan Kamil Introspeksi

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil usai berbicara dalam forum The 2019 Padjadjaran Communication Conference Series di kampus Universitas Padjadjaran, Bandung, Selasa, 6 Agustus 2019.
Sumber :
  • VIVA/Adi Suparman

VIVA – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau yang akrab disapa Kang Emil menyebut munculnya fenomena kerajaan atau kesultanan di Bandung bernama Sunda Empire dan di Tasikmalaya bernama Kesultanan Selacau Tunggal Rahayu adalah orang-orang yang stres.

"Saya duga orang-orangnya mungkin stres, sehingga melarikan diri ke halusinasinya ke dalam imajinasi-imajinasi yang menjual hal-hal aneh. Seperti menemukan harta kekayaan warisan Bung Karno dan bisa menghilangkan ancaman nuklir," kata Kang Emil seperti dilansir tvOne pada Selasa, 21 Januari 2020.

Sebenarnya, kata dia, fenomena orang Indonesia yang hobinya berkelompok atau suka membuat komunitas itu diperbolehkan. Selama tidak melanggar Undang-undang, tidak membuat keresahan dan keonaran serta tindak melakukan kriminiliatas.

"Apakah dia mau iuran uang, silakan saja selama itu unsurnya sudah dipahami. Tapi kalau ada laporan merasa ditipu, investasi bodong atau apa pun maka dasar itu menjadi upaya untuk melakukan pelarangan secara hukum," ujarnya.

Sepertinya, Emil melihat kelompok ini (Sunda Empire dan Kesultanan Selacau) melakukan romantisme sejarah, seolah-olah bahwa kelompok ini bagian dari kerajaan. Padahal, sudah ada forum silaturahmi keraton-keraton nusantara yang dipimpin oleh sultan sepuh di Cirebon, Jawa Barat.

"Di luar itu, diduga tidak valid walaupun sejarah Indonesia mencatat bahwa sebelum jadi republik, ini penuh dengan kerajaan-kerajaan. Tapi sudah tidak relevan lagi, lebih menjadi tempat piknik atau hal-hal seperti itu. Yang jadi masalah, yang percaya banyak sekali," ujar dia.

Baca juga:

Ganjar Balas DM Ratu Keraton Agung Sejagat, Apa Isinya?

Ternyata Lord Rangga Sunda Empire Bebas dari Penjara Lebih Awal

Roy Suryo Sebut Kereta Cepat Bohongan alias Kecebong
 

Pemprov Jabar instrospeksi

Ratusan Pelayat Padati Pemakaman Lord Rangga Sunda Empire

Kang Emil mengatakan, munculnya fenomena kerajaan atau kesultanan di wilayah Bandung dan Tasikmalaya, Jawa Barat sebagai bahan instrospeksi bagi kepala daerah khususnya Pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Menurut dia, bagaimana menggeser energi yang tidak perlu menuju pada hal produktif.

"Bagi saya ini bagian intropeksi diri agar kita melakukan upaya-upaya menggeser aktivitas masyarakat ke hal yang riil dan produktif. Kalau kita mau jadi manusia maju dan terhormat, kita harus bekerja keras dan melakukan inovasi serta berkarya, bukan ikut-ikutan, kemudian berseragam seolah-olah eksis melakukan romantisme sejarah," tuturnya.

Asal Usul Lord Rangga, Pentolan Sunda Empire yang Meninggal Dunia

Emil mengaku khawatir orang terbuai oleh ilusi-ilusi yang terlalu jauh dan heboh ini, sehingga melarikan diri dari kenyataan bahwa ia harus kerja keras, mencari nafkah, memberikan eksistensi riil kepada keluarga tapi sibuk berorganiasi yang tidak jelas.

"Itu dimensi sosial yang harus kami cari solusinya. Sehingga jangan-jangan orang yang stres dan pengganguran, akhirnya merasa seolah-olah eksistensi menjadi luar biasa hanya gara-gara ikut ini. Ini fenomena berbahaya kalau motivasinya begitu," ujarnya.

Oleh karena itu, dia akan mencarikan sebuah upaya sosial budaya agar tidak banyak orang yang lari dari kenyataan, kemudian masuk ke dalam ilusi dan menghabiskan waktunya berada dalam ilusi seperti itu.

Diketahui, publik dihebohkan munculnya Sunda Empire di Bandung, Jawa Barat. Rangga Sasana, seorang Petinggi Sunda Empire mengaku sebagai Gubernur Jenderal Sunda Nusantara.

Menurut dia, Sunda Empire itu bukan diartikan sebagai suku Sunda. Tapi, ini adalah tindakan proses turun temurun kekaisaran dari dinasti ke dinasti. "Sunda Empire itu adalah Kekaisaran Matahari, Kekaisaran Bumi," katanya.

Di samping itu, muncul lagi Kesultanan Selacau Tunggul Rahayu di Kecamatan Parung Ponteng, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kabarnya, komunitas ini didirikan oleh pria bernama Rohidin pada 2004. Ia mengaku sebagai keturunan kesembilan Raja Pajajaran. Selain itu, ia juga menyucikan diri sebagai Sultan Patrakusumah VIII.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya