Ini Cara Eyang Surya Gandakan Uang Korbannya

Pelaku penggandaan uang
Sumber :

VIVA.co.id – Menjelang Lebaran kebutuhan uang semakin meningkat. Situasi ini dimanfaatkan oleh oknum yang menjanjikan uang dapat digandakan dalam waktu singkat.

Viral Polisi Ganteng di TikTok, Bikin Kaum Hawa Meleleh dengan Pesonanya

Namun aksi dari Asep Yudi Yuhendi alias Eyang Surya, 36, warga Cimanggung, Sumedang, Jawa Barat dan Nunut Trihatmodjo alias Totok,44, warga Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat berhasil digagalkan.

Kasus penipuan itu dialami korban Andri Sujatmiko, 36, Warga Trimulyo II, Kepek, Wonosari pada Selasa 14 Juni 2016 kemarin. Korban mengalami kerugian Rp100 juta dari uang yang dia setorkan.

Mudik di Desa Penari

Kanit Reskrim Polsek Bantul, Aiptu Imam Sutrisno mengatakan, kasus itu berawal saat Totok mendapatkan telepon dari temannya bernama Sujid warga Sanden. Dia diberitahu bahwa ada seorang yang akan menggandakan uangnya dengan jumlah cukup besar. “Dari informasi Sujid itu, Totok kemudian menghubungi Eyang Surya,” kata Imam, Rabu 15 Juni 2016.

Adanya informasi itu, Eyang Surya kemudian menghubungi Sujid langsung supaya dia menyediakan kotak dengan ukuran yang telah ditentukan. Beberapa hari kemudian, Eyang Surya bersama Totok datang ke Bantul. Mereka, kemudian bertemu dengan Sujid di salah satu rumah yang telah disiapkan untuk melakukan ritual di daerah Barongan, Sumberagung, Jetis.

Catat, Ini Jadwal Penjualan Tiket Kereta Api Periode Idul Fitri 2022

Menurut Imam, sebelum melancarkan aksinya, Eyang Surya masuk ke dalam kamar menyiapkan perlengkapan yang telah dia bawa. Kemudian kotak yang tingginya hampir 50 sentimeter, seperempat bagian atas diberi sekat menggunakan kertas. Di atas kertas itu diletakkan uang mainan dan baru di atasnya ditata rapi uang asli senilai Rp3,5 juta. “Uang asli itu milik Eyang Surya sendiri untuk meyakinkan korban,”  katanya.

Setelah persiapan dirasa cukup dan korban datang, oleh Eyang Surya kemudian diminta masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar itu hanya ada korban dan Eyang Surya. Korban pun menyerahkan uang dua bendel senilai Rp100 juta dan dibungkus kertas putih kepada Eyang Surya. Oleh Eyang Surya uang itu dibungkus kain kafan putih kemudian diserahkan kembali kepada korban. Korban juga diberi lima lembar uang ratusan ribu yang diambilkan dalam kotak untuk meyakinkan uang yang dia tarik secara gaib asli. 

Korban, kemudian diminta keluar oleh Eyang Surya untuk wudhu, sementara Eyang Surya sendiri beralasan menyiapkan ritual. Tak lama kemudian, Eyang Surya pun meminta korban masuk ke kamar.

“Selama korban keluar itu, rupanya Eyang Surya juga memasukkan dua bendel potongan kertas di dalam kain kafan yang telah disiapkan, lantas disembunyikan,” tutur Imam.

Baru kemudian prosesi ritual dimulai, dan di tengah prosesi itu korban diminta keluar sebentar. Saat keluar itu, Eyang Surya menukar uang korban yang asli dengan potongan kertas miliknya yang juga dibungkus kain kafan. Setelah selesai korban diminta masuk dan diserahi uang yang ada di dalam kotak.

Mereka pun kemudian keluar  dari rumah itu bersama-sama dan pergi ke salah satu ATM bank swasta yang ada di Jalan Jenderal Sudirman, Bantul. Oleh pelaku, korban diminta untuk memasukkan ke dalam rekening uang Rp500 ribu yang sebelumnya telah diberi sejak awal. Pada saat di seputaran bank itulah, pelaku mencari kelengahan korban dan langsung kabur. Korban yang sadar telah ditipu kemudian berteriak hingga didengar banyak warga. 

Warga pun langsung melakukan pengejaran dan berhasil menangkap Eyang Surya di sebelah utara Masjid Agung Bantul. Begitu polisi datang, saat dilakukan penggeledahan, dari dalam tas yang dibawa pelaku, ditemukan uang Rp100 juta milik korban yang rencananya akan dibawa lari. “Dari penangkapan Eyang Surya itu kita kemudian tangkap Totok di daerah Janti,” ujar Imam.

Dalam kasus ini, kedua pelaku dijerat pasal 378 KUHP tentang penipuan. Polisi hingga kemarin tengah mencari Sujid yang menjadi perantara kasus penipuan itu. Eyang Surya yang ditemui usai menjalani pemeriksaan kemarin mengaku baru kali itu melakukan penipuan penggandaan uang.

“Sebenarnya saya dengan mas Totok itu juga dulunya suka cari orang pinter untuk gandakan uang, kita ini pasien juga, kebetulan ada kerjaan di Pemalang dan kita butuh modal,” kata dia. 

(mus)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya