- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Sama seperti Ghea, korban lain adalah Dede Hermawan (44), warga Kampung Sukaasih, Desa Haurpanggung, Kecamatan Tarogong Kidul. Kampung ini berada di dekat Desa Sukakarya tempat Ghea dan keluarganya tinggal. Dalam bencana ini, Dede tak kehilangan anggota keluarga, tapi sebagian harta berharga karena sebagian rumahnya hanyut. Dede selamat karena kebetulan sedang berada di pinggir sungai malam itu. Dia pun berkesempatan menyaksikan bagaimana air bah itu datang dan membawa serta semua yang dilaluinya.
Saat berada di pinggir Sungai Cimanuk, sekitar pukul 22.00 WIB, Dede bersama beberapa warga melihat adanya kenaikan air yang begitu cepat. Dia langsung memberikan peringatan pada warga agar pergi meninggalkan rumah mereka, sambil berlari menuju rumahnya.
Hal ini karena rumahnya berjarak sekitar 50 meter dari tepi Sungai Cimanuk. Benar saja, begitu tiba di rumah, ketinggian air sudah mencapai pinggul orang dewasa. Tanpa banyak pertimbangan, dia langsung meminta seisi rumah pergi keluar, sambil menggendong empat anaknya sekaligus menuju dataran tinggi.
" Air naik sangat cepat, saya berlari karena air seakan-akan mengejar saya," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Kamis, 20 Oktober 2016.
Setelah anak dan istrinya selamat, Dede kembali lagi ke arah sungai untuk berusaha membantu warga lainnya yang terjebak banjir. Satu yang masih membebani pikirannya adalah ketidakmampuannya menolong seorang warga yang dia lihat berlindung di atas pohon. "Paling sulit dilupakan saat saya tidak bisa menolong warga seberang Sungai Cimanuk yang sedang di atas pohon, hanyut bersama pohonnya yang tumbang diterjang banjir," ujarnya mengenang.
Adanya peringatan dari warga memberikan kesempatan bagi sebagian besar masyarakat di Kampung Sukaasih, untuk menyelamatkan diri menuju dataran tinggi. Namun, masih ada warga yang mencari selamat dengan naik ke genting, sehingga terjebak ketika air terus meninggi.
Melihat air semakin mengancam, mereka naik ke atap rumah, untuk mencari perlindungan di Masjid setempat yang memiliki atap tembok beton. Sebab berdasarkan perkiraannya, ketinggian air bisa mencapai tiga meter, karena melebihi atap rumah yang tak bertingkat.
Meski Dede tak ikut mengungsi dan lebih memilih tinggal di rumah, karena kondisinya sudah bersih dari lumpur dan memadai untuk ditinggali. Dede tetap tercatat sebagai korban yang akan direlokasi ke rumah susun. Sebab, banjir bandang di kawasan ini bukan yang pertama kali. Saban intensitas hujan meningkat, biasanya banjir pun mengikuti.