- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Ghea dan Dede sama-sama pasrah terhadap bencana yang sudah datang, tapi mereka menyesalkan karena peristiwa ini sebenarnya bisa dicegah. Mereka beranggapan banjir kali ini lebih parah karena adanya manusia yang merusak lingkungan di daerah hulu Sungai Cimanuk. “Ya, kerusakan alam akibat alih fungsi lahan hutan menjadi lahan perkebunan menjadi peyebab bajir bandang."Â
Senada dengan itu, Ghea pun merasa penyebab banjir  ini adalah kerusakan akibat maraknya penebangan liar. Dia hanya meminta aparat bertindak tegas karena ulah mereka membawa petaka. "Para perusak alam ini ditindak tegas, karena telah merugikan masyarakat umum."
Penanganan Korban Banjir Bandang Garut
Penanggulangan bencana saat ini sudah memasuki tahap rekontruksi dan rehabilitasi. Pemerintah Kabupaten Garut mengklasifikasi dampak banjir bandang. Korban meninggal dunia, terbagi menjadi meninggal dan korban hilang. Untuk kerusakan, dibagi menjadi rusak berat, sedang, dan ringan. Sementara status domisili dihitung berdasarkan status kepemilikan rumah, sebagai penyewa atau pemilik.
Bupati Garut Rudy Gunawan mengatakan, berdasarkan Surat Keputusan Bupati jumlah korban banjir bandang mencapai 2.525 orang terbagi dalam 787 Kepala Keluarga. Korban meninggal dunia mencapai 53 orang, di antaranya 18 masih hilang. Sementara kerugian secara material diperkirakan mencapai Rp288 miliar.
"Jadi kami melakukan penanganan korban bajir bandang pada masa rekontruksi dan rehabilitasi ini, mengklasifikasikan korban, agar penanganannya lebih tepat " ujar Rudi saat ditemui di kantornya, Kamis, 20 Oktober 2016.
Untuk korban yang mengungsi hingga saat ini mash terus mengalami perubahan, karena sewaktu-waktu para pengungsi bisa pergi meninggalkan pengungsian.
Pemerintah setempat telah menentukan tujuh lokasi pengungsian, yaitu di Kecamatan Cilawu di Rusunawa Workshop sebanyak 91 Kepala Keluarga. Kemudian di Kecamatan Garut Kota tersebar di Gedung Islamic Centre sebanyak 109 Kepala Keluarga, Gedung Balai Paminton sebanyak 31 Kepala Keluarga, serta Gedung LPSE sebanyak 27 Kepala Keluarga. Lalu di Kecamatan Tarogong Kidul pengungsi ditempatkan di Rusunawa Musadadiyah sebanyak 49 Kepala Keluarga, dan Gedung Transito sebanyak 22 Kepala Keluarga.
"Jadi pengungsi ini akan diberikan Id Card (kartu identitas) sebagai tanda bahwa yang bersangkutan merupakan korban yang diungsikan sesuai dengan SK Bupati," ujarnya menjelaskan.