- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Dalam rencana relokasi, para pengungsi akan ditempatkan di rumah tapak dan rumah susun yang akan dibangun Pemerintah Kota Garut. Rumah tapak akan menjadi hak milik korban, dengan syarat mereka adalah merupakan pemilik sah rumah yang rusak diterjang bajir bandang. "Kalau rumah susun memang sebagian merupakan korban yang mengontrak atau bukan pemilik sah rumah yang rusak, mereka akan dibebani administrasi untuk pembayaran listrik dan air," ujarnya menambahkan.
Rudy mengamini, bahwa banjir bandang ini terjadi akibat kerusakan lingkungan. Hal ini mengacu pada kondisi di daerah hulu sungai yang berada pada kondisi kritis akibat alih fungsi lahan hutan. Namun hal itu bukan satu-satunya faktor, kondisi ini diperparah dengan curah hujan yang tinggi, sehingga volume air yang datang dari arah hulu sungai tak bisa ditampung.
"Berdasarkan hasil konsultasi dengan BMKG, saat terjadi banjir bandang memang curah hujan sangat tinggi, sehingga hutan yang masih hijau sekalipun tak akan mampu meresap air, apalagi ini hutan di hulu Sungai Cimanuk dalam kondisi kritis," katanya menerangkan.
Menurutnya, daya tampung volume air Sungai Cimanuk saat ini mencapai 740 mililiter per detik. Guna mencegah bahaya banjir bandang di kemudian hari, pihaknya akan menetapkan daerah terlarang di sepanjang sungai dengan menentukan batas bahaya sesuai perhitungan daya tampung volume air, 1.480 mililiter per detik.
Mengenai peringatan dini bencana banjir bandang, Rudy mengatakan, Kabupaten Garut memiliki dua ribu titik bencana untuk diwaspadai. Tak hanya banjir bandang, pihaknya telah mengingatkan warga di 42 kecamatan di kota yang dikenal karena dodolnya ini, agar selalu waspada menghadapi beragam bencana alam. Mulai dari letusan gunung berapi, longsor, gempa bumi, serta angin puting beliung.
"Semua pihak senantiasa harus berhati-hati dan waspada. Pasalnya, di Kabupaten Garut ini terdapat dua ribu titik rawan bencana, atau hampir ada 50 titik rawan bencana di tiap kecamatan, atau 5 titik rawan bencana per desanya," katanya.
Melihat potensi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Garut kerap menggelar pelatihan dan simulasi bencana alam sebagai bentuk pendidian kepada masyarakat, mengenai antisipasi bencana alam. Selain itu, BPBD juga memetakan titik rawan bencana dan memasang berbagai papan peringatan di lokasi itu, sebagai peringatan untuk warga.