- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
“Makanya banyak jadi masalah ketika kita menyelesaikan rumah untuk hunian tetap, yang mana dananya sangat tinggi. Itu paling sulit,” ujarnya menjelaskan.
Pembangunan hunian ini diperlukan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi, seperti yang diberikan pada korban bencana di Garut, dan juga longsor di Sumedang. Kemudian relokasi warga terdampak bencana erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara, lalu korban banjir bandang di Sangihe, Manado, Sulawesi Utara.
Namun, antisipasi pemerintah ini bagi Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Yaya Nur Hidayati, masih kurang. Dia menilai, peristiwa longsor dan banjir sebagai bencana ekologis, yang seharusnya bisa dicegah. Sebab, bencana ekologis di mata Yaya terjadi akibat perbuatan manusia mengeksploitasi sumber daya alam dan pembangunan. Hal ini berakibat pada rusaknya lingkungan dan memperbesar potensi terjadinya banjir dan longsor.
Berangkat dari pendapat itu, dia mendorong pemerintah supaya lebih perhatian dalam memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Cara ini menjadi solusi dalam memperkecil potensi terjadinya banjir dan longsor. “Harus ada upaya yang lebih mendasar untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup,” ucapnya di kantor Walhi, Jakarta, Kamis, 20 Oktober 2016.
Menurut dia, melihat pada bencana yang terus berulang setiap tahun, Yaya menyimpulkan adanya pengabaian dari pemerintah untuk melindungi masyarakat dari korban bencana. Indikasinya adalah tingkat korban meninggal yang tinggi setiap terjadi bencana, sehingga menunjukkan kurangnya kewaspadaan masyarakat, termasuk juga antisipasi pemerintah untuk mengurangi potensi bencana.
“Artinya adalah, pertama pemerintah itu tidak, entah tidak menyadari atau tidak peduli, bahwa negara kita itu sudah berada dalam keadaan rawan bencana ekologis yang sangat parah, ratusan orang setiap tahun itu menjadi korban bencana ekologis di seluruh Indonesia.”
Diaberharap sistem peringatan dini bisa diterapkan pada bencana banjir dan longsor, seperti halnya erupsi pada gunung berapi. Sehingga, ketika ada potensi curah hujan tinggi, maka warga diberikan peringatan mulai dari normal, waspada, siaga, dan awas.(mus)