Logo DW

Awas! Polusi Udara Bisa Memicu Keguguran

Ilustrasi polusi udara (picture-alliance/Imagechine/Tian Ye)
Ilustrasi polusi udara (picture-alliance/Imagechine/Tian Ye)
Sumber :
  • dw

Peneliti menemukan bahwa kemungkinan perempuan mengalami kasus keguguran meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi polusi di udara. Riset tersebut juga mempertimbangkan parameter lainnya, seperti kelompok umur, pekerjaan dan suhu udara. Perempuan yang berusia lebih dari 39 tahun dan perempuan yang berprofesi sebagai petani atau buruh memiliki risiko keguguran lebih tinggi akibat paparan polusi udara.

Para peneliti di Cina menetapkan "polusi udara” mengandung 4 jenis polutan, yaitu: ozon, karbon monoksida, sulfur dioksida dan partikulat alias partikel halus yang disebut sebagai PM 2.5. Pada penelitian sebelumnya ditegaskan, partikel polutan halus dapat menembus plasenta pada perempuan hamil yang terpapar polusi udara dalam jangka lama dan mempengaruhi kesehatan si janin.

Dari data rekam medis perempuan yang menjadi objek penelitian, sekitar 17,500 perempuan mengalami kegagalan dalam kandungan atau hamil anggur. Tetapi korelasi polusi udara dengan "hamil anggur" – di mana janin tidak dapan berkembang atau mati – masih sulit untuk di tegaskan.

Darah mengandung polutan

Polusi akibat aktivitas manusia memiliki partikal berukuran sangat halus. Partikel yang tidak kasat mata ini dapat dengan mudah memasuki paru-paru, aliran darah dan bersirkulasi hingga ke dalam otak.

Sejauh ini efek kesehatan yang berbahaya dari polusi udara yang sudah dibuktikan antara lain penyakit infeksi saluran pernafasan, penurunan kemampuan kognitif anak, hingga infertilitas atau mandul dan demensia. Setiap tahunnya kasus kematian yang disebabkan oleh pneumonia atau infeksi saluran pernafasan mencapai satu juta orang, sekitar 50 persen dari kasus tersebut merupakan dampak negatif dari polusi udara.

Penelitian yang dilakukan mengenai hubungan antara keguguran dan polusi udara di Cina bukanlah yang pertama. Pada bulan Februari 2019, sebuah penelitian yang dilakukan di Salt Lake City, Amerika Serikat menunjukan, peningkatan kadar nitrogen dioksida sebanyak 20 mikrogram per meter kubik udara berkorelasi dengan peningkatan kasus keguguran hingga sekitar 16 persen.