SOROT 485

Depresi, Membunuh dalam Senyap

Seorang yang mengalami gangguan jiwa akibat depresi tengah dimandikan di Kediri, Jawa Timur.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Lihat Infografik: Depresi, Kenali dan Atasi

Ada lagi yang paling menggemparkan dan sulit dilupakan adalah kasus bunuh diri yang disiarkan secara live di Facebook pada Maret 2017. Bunuh diri pria itu dipicu cemburu dan depresi karena rumah tangganya kandas. Jika didata, kasus bunuh diri di dalam negeri pasti punya daftar panjang. 

img_title Tak Sisiran Sebulan Hingga Rambut Gimbal, Psikolog: Tanda Depresi

Pasien Depresi Naik

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kasus bunuh diri di Indonesia yang tercatat di kepolisian pada tahun 2015 mencapai 812 kasus. Angka tersebut belum termasuk kasus yang tak dilaporkan, sehingga angka riil di lapangan pasti lebih banyak lagi. 

Sementara data Organisasi Kesehatan Dunia alias World Health Organization (WHO) mencatat, kasus bunuh diri di Indonesia pada 2010 lalu mencapai 5.000. Angka tersebut melonjak signifikan hingga dua kali lipat menjadi 10 ribu dalam dua tahun terakhir. Secara global, kasus bunuh diri mencatat angka yang mencengangkan. Ada sekitar 800 ribu kasus tiap tahunnya, dengan satu orang meninggal karena bunuh diri setiap 40 detik.

Data WHO menyebutkan, rasio bunuh diri secara global sekitar 11,4 per 100 ribu orang. Sementara di Indonesia, rasionya 4,3 per 100 ribu orang. Dan banyak orang yang bunuh diri sebenarnya menderita penyakit kejiwaan, dengan penyebab paling sering adalah depresi. 

Sementara jumlah total orang yang hidup dengan depresi meningkat lebih dari 18 persen pada periode 2005 hingga 2015. Kondisi ini merupakan hasil dari pertumbuhan pesat populasi global secara keseluruhan, ditambah dengan meningkatnya jumlah orang dengan masa hidup yang lebih panjang, di mana depresi umum terjadi. 

img_title Kejiwaan Pembunuh Ayahnya Tidak Stabil, Polisi Belum Bisa Periksa

Sorot Depresi - gangguan jiwa - mental - sakit jiwa
Seorang yang mengalami gangguan mental di Bangladesh. (REUTERS/Tyrone Siu)

Data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan, prevalensi gangguan mental emosional dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan mencapai 6 persen untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang.

img_title Diduga Depresi, Anak Tega Bunuh Ayahnya di Malang

Psikiater dan Kepala Departemen Psikiatri RSCM, A. A. A Agung Kusumawardhani, SpKJ(K) memperkirakan bahwa angka depresi di Indonesia akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini sesuai dengan data WHO, di mana depresi akan menjadi salah satu penyakit yang menghasilkan burden (beban) tertinggi urutan kedua baik untuk pasien, keluarganya hingga negara pada tahun 2020 karena mengakibatkan penurunan kinerja dan sumber daya manusia (SDM). 

"Kalau kasus depresi memang dikatakan dan diprediksi akan meningkat terus. Dalam sebulan saja saya menerima sekitar 25-30 pasien. RSCM jadi rujukan tertinggi, biasanya kasus-kasus berat atau sulit," katanya kepada VIVA. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut