- ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
Kedua, penurunan motorik, seperti motivasi menurun, tidak mau bekerja, tidak mau bergerak dan ogah merawat diri. Ketiga, penurunan proses pikirnya, seperti menjadi pesimis, tidak ada semangat, tidak punya harapan dan galau.Â
"Bahkan kalau sangat berat pikiran pesimisnya akan terpikir untuk mengakhiri hidup," ucapnya.Â
Namun depresi tidak selalu berakhir dengan bunuh diri. Hanya ketika kasus depresi tidak tertangani dan makin berat baru berakhir tragis. Depresi sendiri ada tiga kategori, yakni ringan, sedang, dan berat. Nah, depresi dengan level berat lah, yang biasanya sampai membuat orang ingin mengakhiri hidup.
Kendati demikian, perlu diwaspadai karena depresi ringan juga bisa menjadi berat jika penderita memiliki kerentanan biologis, ditambah stressor atau pemicu berat yang dihadapi. Namun depresi bisa mengintai siapapun meski tak memiliki kerentanan biologis jika mereka menghadapi stressor berat.
![]()
Seorang pria berdiri sendirian di Seoul, Korea Selatan. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Perlu diketahui juga bahwa depresi bersifat run in the family. Artinya, jika ada salah satu anggota keluarga yang mengalami depresi, maka ada anggota lain yang bakal rentan mengalaminya.Â
Dan seseorang dengan kepribadian perfeksionis, serba rapi, teratur, terjadwal memiliki kerentanan menderita depresi. Misal, ketika masuk dunia kerja dan berhadapan dengan sesuatu yang tak selaras dengannya, akan sering muncul konflik dan hubungan tak harmonis dengan rekan kerja sehingga menyebabkannya frustrasi hingga berakhir dengan depresi.Â
Pendiri Komunitas Into The Light, Benny Prawira menambahkan, gejala depresi itu yang utama adalah perasaan sedih, putus asa, frustrasi, hampa dalam waktu dua pekan tanpa sebab jelas. Hal itu diiringi dengan kehilangan minat terhadap hal-hal yang disukai. Misalnya, yang tadinya hobi olahraga, menjadi malas berolahraga dan sulit menikmatinya lagi.Â
Gejala lain, seperti perubahan pola makan dan tidur. Perubahanya tersebut bisa naik atau turun dengan sangat signifikan. Gerakan tubuh yang sangat lambat dan gelisah juga menjadi tanda depresi. Selain itu, mulai susah fokus, konsentrasi menurun drastis, dan ada pemikiran bunuh diri.Â
"Tapi enggak semua kasus depresi ada pemikiran bunuh diri. Itu biasanya depresi yang cukup parah, dia sudah kehilangan energi, terus punya pemikiran bunuh diri," ujarnya.Â
Karena itu, jika melihat orang terdekat, keluarga atau teman tiba-tiba memutus hubungan komunikasi, jarang kumpul, selalu mengeluh dan merasa hidupnya terperangkap, tidak semenyenangkan seperti dahulu hingga punya pemikiran terkait kematian, seharusnya sudah curiga karena itu tanda-tanda depresi. Sebab jika dibiarkan akan menjadi pemikiran bunuh diri.Â
Pemikiran terkait kematian pun bisa beragam. Misalnya, bilang ingin tidur dan tidak bangun-bangun, berharap tidak pernah dilahirkan atau lebih spesifik lagi dengan mengatakan akan merencanakan kematiannya. Itu menandakan ada yang salah dengan hidupnya dan kata-katanya semakin spesifik soal kematian, kemungkinan pemikiran bunuh diri akibat depresi sudah sangat matang dan sangat berbahaya. Hal ini yang harus segera ditangani.