- VIVA/Dwi Royanto
Benar atau keliru teori itu, katanya, dibuktikan kelak dengan penemuan dan penelitian yang lebih mutakhir. Tetapi satu hal yang pasti, dia berpendapat, Gampong Pande ialah daerah pertama penyebaran agama Islam di Nusantara, sebelum menyebar ke Aceh Timur menjadi Kesultanan Peureulak pada tahun 840 lalu ke Lhokseumawe dan Aceh Utara menjadi Samudra Pasai atau Kesultanan Pasai tahun 1267.
Kesultanan Pasai
Sejauh bukti-bukti dan studi-studi ilmiah yang telah dilakukan, Samudra Pasai-lah kerajaan Islam pertama di Nusantara. Kesultanan itu sesungguhnya hasil penggabungan dari kerajaan Islam pendahulunya, yakni Kesultanan Peureulak. Kesultanan itu didirikan pada 840 masehi dengan raja pertamanya Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah.
Empat abad kemudian, setelah wafatnya Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan sebagai sultan ke-18 (sultan terakhir, memerintah 1267–1292), Peureulak disatukan dengan Samudra Pasai. Waktu itu Pasai dipimpin Al-Malik az-Zhahir (memerintah 1297-1326), sultan kedua atau putra Al Malik Al-Saleh (memerintah 1267-1297).
Tak banyak peninggalan Pasai. Bahkan bekas istananya pun tak ditemukan. Makam sang sultan pertama Al-Malik Al-Saleh ialah satu di antara sedikit jejak kekuasaan kerajaan itu. Letaknya di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Aceh. Dapat dijangkau juga melalui Kota Lhokseumawe. Letaknya di timur Lhokseumawe, berjarak kira-kira 18 kilometer dari pusat kota.
Makam itu sebenarnya berada di dalam kompleks permakaman sultan-sultan Pasai, di antaranya juga ada makam Al-Malik az-Zhahir. Kompleks makam seluas tiga kali lapangan sepakbola. Namun yang utama ialah makam Al-Malik Al-Saleh dan putranya, seluas 288 meter persegi. Makam mereka dilengkapi pagar setinggi satu meter dengan cungkup khusus menyerupai menara seluas 64 meter persegi dan tinggi delapan meter.
Di kompleks berbeda, bersemayam jasad perempuan penguasa Pasai, yaitu sultanah atau Ratu Nahrisyah (memerintah 1406-1428). Makam sultan perempuan itu ditandai dengan nisan khusus yang terbuat dari marmer India. Makam dengan tanda istimewa itu sekaligus menandai bahwa Pasai di masa pemerintahan Nahrisyah-lah mencapai puncak kejayaannya.
“Dari batu nisannya sendiri bisa kita lihat bahwa sengaja dihadiahkan dari India. Dan di sini ada beberapa nisan yang masa itu terbuat dari marmer. Kami rasa itu masa puncak kejayaan Samudera Pasai, awal abad kelima belas,” kata Sukarna Putra, pegiat organisasi Center of Information for Samudra Pasai Heritage, saat berbincang dengan VIVA, Kamis, 31 Mei 2018.