- VIVA/Dwi Royanto
Komplek Makam Malikussaleh dan Makam Malik Azh Zhahir Samudra Pasai di Lhokseumawe, Aceh. (VIVA/Zulfikar Husein)
Sebenarnya, pamor Kesultanan Pasai sudah mendunia sejak pemerintahan sultan keempat Al-Malik az-Zhahir II (memerintah 133?-1349). Sebab di masa itulah seorang penjelajah muslim asal Maroko, Ibnu Batuttah, mengunjungi Pasai.
Batuttah, dalam catatan perjalanannya yang berjudul Pengembaraan ke Timur, menuliskan pengalamannya menyusuri Kota Pasai dengan kudanya sekitar empat mil. Kota Pasai digambarkannya sebagai kota yang besar dan indah, dikelilingi pagar-pagar kayu yang dilengkapi dengan menara-menara yang terbuat dari kayu. Dia menceritakan, bahwa sultan Pasai menyambutnya dengan penuh keramahan dan penduduknya menganut mazhab Syafi'i.
Cerita lebih tua lagi tentang Pasai dan gema kekuasannya dituliskan oleh Marco Polo, penjelajah asal Italia. Marco Polo melaporkan berdasarkan lawatannya ke Pasai bahwa kerajaan itu terletak di tepi Sungai Pasangan (Peusangan).
Kekaisaran Cina pun sudah berhubungan dengan Pasai. Cheng Ho memimpin langsung 208 kapal mengunjungi Pasai berturut turut dalam tahun 1405, 1408 dan 1412. Cheng Ho bahkan menyampaikan hadiah dari kaisar Cina berupa lonceng Cakra Donya kepada sultan Pasai.
Aceh Darussalam hingga Mataram Islam
Pada akhir masa kekuasaan Kesultanan Pasai abad XV, Islam menyebar ke berbagai penjuru Nusantara dan tumbuhlah berbagai macam kerajaan Islam, besar atau kecil, sebagian eksistensinya hanya satu-dua abad dan sebagian lain hingga lebih lima abad.
Kerajaan yang paling dekat dengan Pasai ialah Kesultanan Aceh Darussalam (1496–1903) dengan ibu kotanya Bandar Aceh Darussalam (sekarang Banda Aceh). Di Jawa pada masa Pasai mulai menua, sedikitnya berdiri lima kerajaan Islam, antara lain Kesultanan Demak (1475–1554), Kesultanan Pajang (1568–1586), Kesultanan Mataram (1588–1681), Kesultanan Cirebon (1430–1677), Kesultanan dan Banten (1526–1813).
Di luar Jawa, tepatnya di Kepulauan Maluku, berjaya Kesultanan Tidore (1081–1950) dan Kesultanan Ternate (1257–1950). Di Sulawesi ada kerajaan Gowa dan Tallo (1300–1946). Berdiri pula Kesultanan Banjar (1520–1905) yang berpusat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Bangunan Masjid Agung Demak. (VIVA/Dwi Royanto)
Kesultanan Demak menjadi kerajaan Islam pertama dan terbesar di Jawa. Ibu kotanya bernama Bintoro yang sekarang adalah Demak, Jawa Tengah. Kerajaan itu didirikan oleh Raden Patah, seorang bupati kerajaan Majapahit yang berkedudukan di Demak dan telah menganut Islam.