SOROT 505

Jejak Kerajaan Islam Nusantara

Masjid Agung Demak
Sumber :
  • VIVA/Dwi Royanto

Pendapat Hermanu tentang perpaduan ajaran Islam dengan budaya Jawa itu ditemukan buktinya sampai sekarang pada ritual keagamaan yang berkarakter tradisi lokal. Di Yogyakarta misalnya. Tiap tahun digelar peringatan hari-hari besar Islam, seperti grebeg Syawal (perayaan Idul Fitri), grebeg Idul Adha (perayaan Idul Adha), grebeg Maulud (peringatan kelahiran Nabi Muhammad), dan lain-lain.

img_title Terungkap Alasan Maraknya Anak Muda Korea Selatan Memilih Masuk Islam

“Itu sangat erat dengan keberadaan Islam di Keraton Yogyakarta,” ujar Budi Setiawan, imam besar Masjid Gedhe Kauman, saat ditemui VIVA pada Selasa, 5 Juni 2018.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

KRT Kusumonegoro, Staf Tepas Keprajuritan Keraton Yogyakarta menjelaskan, bahwa masih cukup banyak bukti sejarah yang menandai betapa kuat islamisasi yang berpusat di keraton. Benda-benda bersejarah yang berciri paduan ajaran Islam dengan tradisi Jawa masih dapat ditemui di Keraton. Di antaranya masih disimpan Kanjeng Kyai Quran yang ditulis tangan di perpustakaan Keraton. Kitab itu tidak dipamerkan melainkan hanya diperlihatkan kalau ada tamu negara setingkat kepala negara.

img_title Buya Yahya Ungkap Sunnah Keluar Masjid, Ternyata Bisa Amalkan Dua Anjuran Sekaligus

Banten hingga Gowa-Tallo

Satu lagi kerajaan Islam besar di Jawa yang terletak di bagian barat pulau itu, yaitu Kesultanan Banten. Kerajaan di Tatar Pasundan itu tak dapat dilepaskan dengan Kesultanan Demak. Semua bermula ketika Demak pada tahun 1526 memperluas wilayahnya di pesisir barat Jawa, menaklukkan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya pangkalan militer sebagai antisipasi perjanjian antara kerajaan Sunda dan Portugis.

img_title Gandeng DMI dan BPMI, Aqua Kembali Berangkatkan 26 Marbot Umrah ke Tanah Suci

Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, mengembangkan benteng pertahanan dan pangkalan militer itu menjadi kota pesisir. Kemudian menjadikannya pusat pemerintahan setelah Banten menjadi kesultanan yang berdiri sendiri. Kerajaan itu berkuasa hingga tiga abad kemudian sampai runtuh pada tahun 1813. Keruntuhannya ditandai dengan dihancurkannya Istana Surosowan setelah penjajah Eropa datang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bangunan-bangunan peninggalan Kesultanan Banten. (VIVA/Yandi Deslatama)

Tetapi peninggalan-peninggalan Kesultanan Banten masih dapat ditemui hingga kini, di antaranya Istana Surosowan yang seluas empat hektare, Masjid Agung, Benteng Spellwijk, Vihara Avalokitesvara, dan lain-lain. Masjid Agung dibangun oleh Maulana Hasanudin. Bangunan Masjid beratap lima tingkat, menyerupai Pagoda, karena memang dibangun oleh arsitek China bernama Tjek Ban Tjut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut