- VIVA/Dwi Royanto
Demak mencapai puncak kejayaannya pada abad XVI di bawah kepemimpinan Pati Unus dan Trenggana. Kerajaan itu bahkan sampai berani menyerang Portugis di Malaka dan memperluas wilayahnya di Jawa Barat. Fatahillah, pemuda asal Samudra Pasai dan panglima tentara Demak, berhasil mengusir Portugis di Sunda Kelapa.
Jejak kejayaan kerajaan itu masih dapat dilihat sampai sekarang berupa Masjid Agung Demak. Letaknya di alun-alun Demak, kira-kira 26 kilometer dari Kota Semarang. Masjid seluas setengah lapangan sepakbola itu disebut masjid megah karena arsitekturnya yang indah dan sarat filosofi.Â
Empat pilar penyangga di ruang utama masjid setinggi 17 meter, yang dimaknai sebagai jumlah total rakaat salat lima waktu. "Empat tiang penyangga ini dari kayu jati. Disebut sebagai saka tatal. Masih asli meski sebagian kita pindah di Museum Masjid di sisi utara," kata Ahmad Qoif, pengurus Masjid Agung Demak, saat bebincang dengan VIVA pada Minggu, 3 Juni 2018.
Pada bagian atap berbentuk limas dengan tiga tingkatan dimaknai sebagai tiga tingkatan seorang muslim, yakni iman, Islam, dan ihsan. Secara keseluruhan, Masjid Agung Demak fenomenal dengan gambar hewan bulus atau kura-kura. Kepala kura-kura dimaknai angka satu, lalu empat kaki dan badan dimaknai angka nol—1401. Angka itu menandai tahun berdirinya Masjid, yaitu 1401 saka.
Bangunan interior Masjid Agung Demak. (VIVA/Dwi Royanto)
Tak ditemui bangunan-bangunan besar lain seperti istana kerajaan. Masjid Agung itulah yang menandai eksistensi Kesultanan Demak sebagai simbol dakwah Islam di Jawa. Menurut Imaduddin, juru kunci sekaligus sejarawan di Museum Masjid Demak, para raja Demak memang sengaja tak membangun istana karena visi utama mendirikan kerajaan ialah syiar Islam bersama para ulama Walisongo.
Bahkan, kata Imaduddin, sang sultan pertama Raden Patah tak bermukim di sebuah istana melainkan di rumah biasa yang menyatu dengan permukiman penduduk. “Jadi, Raden Patah tidak tinggal di (istana) kerajaan tapi rumah penduduk. "Permukiman yang dimaksud ialah satu kawasan yang kini dijadikan kompleks makam raja-raja yang bernama kampung Bintoro.
Keterangan sang juru kunci selaras dengan pendapat Masud Thoyib, Sekretaris Jenderal Yayasan Raja Sultan Nusantara. Tak dapat dimungkiri bahwa Demak adalah kerajaan Islam pertama yang paling berpengaruh dalam penyebaran Islam di Jawa dengan eksistensi Walisongo.