- VIVA/Dwi Royanto
Sayangnya, bangunan-bangunan yang menjadi saksi kedigdayaan Kesultanan Banten itu nyaris tak terawat. Situs-situs itu dipenuhi coretan aksi vandal, ditumbuhi rumput ilalang, tumpukan sampah, dan kerusakan di banyak sisi.Â
Ketua Pemangku Adat Kesultanan Banten, Tubagus Abbas Wasse, mengaku sangat prihatin dengan kondisi situs-situs bersejarah itu. Dia memperingatkan, cepat atau lambat harus ada upaya pemeliharaan yang serius dari pemerintah setempat. Kalau tidak, situs itu kelak musnah hingga generasi mendatang tak mengenalinya lagi.
Kerajaan Islam yang berkarakter maritim seperti Banten maupun Demak pernah berdiri juga di Sulawesi Selatan, yaitu kerajaan Gowa dan Tallo. Kerajaan Gowa-Tallo adalah kerajaan Islam di Indonesia yang menjadi simbol kejayaan Islam di kawasan timur Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai kerajaan besar yang berpengaruh dan menjadi kerajaan dagang.
Menurut sejarawan Syamzan Syukur, jauh sebelum kerajaan Gowa-Tallo menjadikan Islam sebagai agama kerajaan, masyarakatnya sudah mengenal Islam. Persentuhan orang-orang Gowa-Tallo yang dikenal sebagai pelaut-pelaut ulung dengan Islam bersamaan dengan aktivitas maritim mereka; berinteraksi dengan pedagang-pedagang Nusantara dan bahkan dunia.
Secara resmi, kata doktor sejarah dan peradaban Islam pada Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar itu, masyarakat Gowa dan Tallo memeluk Islam pada abad XVI. Diawali kehadiran tiga mubalig yang bergelar datuk dari Minangkabau, antara lain Datuk ri Bandang, Datuk Patimang, dan Datuk ri Tiro. Mereka datang atas perintah Sultan Aceh Darussalam dan Sultan Johor untuk mengembangkan dan menyiarkan Islam di Sulawesi Selatan.
Pada tahun 1605, raja kesembilan Gowa resmi memeluk Islam dan bergelar Sultan Alauddin. Hampir bersamaan dengan Datuk Luwu yang bergelar Sultan Muhammad Mahyuddin dan raja Tallo Imalingkaan Daeng Mayonri Karaeng Katangka (Sultan Abdullah Awalul Islam).
Masjid Tua Al-Hilal Katangka di Gowa, Sulawesi Selatan. (VIVA/Yasir)
Umumnya, masyarakat mengenal Masjid Tua Al-Hilal Katangka sebagai rumah ibadah tertua Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan. Namun tak banyak yang tahu bahwa pada masanya masjid itu juga difungsikan sebagai benteng pertahanan terakhir bagi keluarga kerajaan.
Hal itu tampak pada dinding masjid setebal 1,2 meter, dibangun berdasarkan bahan yang sama dengan benteng pertahanan Kalegowa. "Pada masa tersebut, selain sebagai pusat peribadatan dan syiar Islam, masjid ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan semasa perang," kata Harun Daeng Ngella, pengurus Masjid Katangka, kepada VIVAÂ Minggu, 3 Juni 2018.