SOROT 505

Jejak Kerajaan Islam Nusantara

Masjid Agung Demak
Sumber :
  • VIVA/Dwi Royanto

Demak runtuh seiring perang saudara memperebutkan takhta kerajaan dan pemberontakan Raden Hadiwijaya di Pajang, salah satu wilayah kekuasaan kesultanan itu. Hadiwijaya kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang dan mendirikan Kerajaan Pajang. Dan tamatlah riwayat Demak.

img_title Pria Asal Madiun Colong 26 Kotak Amal Masjid dan Musala di Ponorogo dalam 2 Bulan

Pada abad XVII, berdirilah Kerajaan Mataram Islam atau Kesultanan Mataram. Asal-usulnya adalah suatu kadipaten di bawah Kesultanan Pajang. Ibu kotanya terletak di Kotagede, sebelah tenggara kota Yogyakarta. Kelak, setelah kerajaan itu mengalami serangkaian pemberontakan dan perang saudara, Kesultanan Mataram terbelah menjadi dua kerajaan, yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Momen itu ditandai dengan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dua kerajaan Islam pewaris Mataram itu masih eksis hingga kini. Kesultanan Ngayogyakarta berpusat di kota Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta berbasis di kota Surakarta atau Solo. Mereka melestarikan banyak peninggalan bersejarah mulai istana atau keraton hingga masjid sebagai simbol dakwah Islam, masing-masing Masjid Gedhe Kauman dan Masjid Agung Keraton Solo.

img_title KDM Pilih Bangun Masjid Kecil di Perkampungan, Singgung Kini Masyarakat Datang ke Masjid Cuma Buat Foto

Komplek bangunan Kesultanan Ngayogyakarta di Yogyakarta. (VIVA/Daru Waskita)

Kesultanan Ngayogyakarta maupun Kasunanan Surakarta sama-sama diakui pengaruhnya dalam Islamisasi Jawa. Menurut sejarawan pada Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Prof Dr Hermanu Joebagio, islamisasi di Jawa berpusat di keraton. Ajaran Islam yang dikembangkan adalah tasawuf. Maka, katanya, budaya tasawuf dan agama Islam yang berparadigma tasawuf sering disebut sebagai islamistik.

img_title Masjid Dekat Rumah Amien Rais di Sleman Dikirimi Sapi Kurban 1,1 Ton Bertuliskan 'TIW'

Pola islamisasi yang semacam itu, menurut Hermanu, menciptakan model Islam di Jawa berkarakter tasawuf dan karenanya akomodatif terhadap kebudayaan-kebudaan lokal. “Islam (di Jawa) bukan model puritan Wahabis—bukan itu,” katanya kepada VIVA.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hermanu menyimpulkan, di dalam tasawuf tidak pernah ada kata sesat, tidak pernah ada kata bidah, yang sering muncul di masyarakat sekarang.

Penguasa kerajaan pun dengan kreatif menyampaikan ajaran-ajaran Islam tidak hanya dengan bahasa Arab melainkan juga bahasa Jawa. Bahkan, pada masa Pakubuwana X memerintah Surakarta, khotbah salat Jumat di Masjid Agung disampaikan dalam bahasa Arab dan Jawa. “Jadi ditambah menggunakan bahasa Jawa supaya yang tidak bisa bahasa Arab bisa mengerti isi khotbahnya,” ujarnya menambahkan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut