Maut di Angkasa

Boeing 737 MAx 8
Boeing 737 MAx 8
Sumber :
  • Dokumentasi Lion air.

VIVA – Diah Mardani menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Wajahnya tak terlihat gembira. Perempuan berjilbab itu mungkin tak tahu, harus bahagia atau bersedih. 

Ya. Dia berhasil lolos dari maut. Diah bukan penumpang Lion Air JT 610 penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, pada Senin, 29 Oktober. Semua penumpang dan kru pesawat itu tewas. 

Diah adalah penumpang Lion Air penerbangan Denpasar-Jakarta, yang melakukan perjalanan sehari sebelum JT 610 jatuh. Cerita Diah, ia bersama 51 rekan sekantornya pulang dari Bali. Pesawat Lion Air yang akan mereka tumpangi sudah menunda keberangkatan selama dua jam. Dan setelah pesawat akhirnya mengudara, ia dan teman-teman sekantornya mengaku merasakan pengalaman yang mencekam. Pesawat tersebut sempat terasa tak bertenaga.

"Pada saat naik, langsung turun, dan naik lagi, dan turun lagi dengan kencang," kata Diah di Indonesia Lawyers Club atau ILC di tvOne, Selasa 30 Oktober.

Selama penerbangan, lampu sabuk pengaman tak pernah padam. Ia juga melihat pilot dan ko pilot mengambil tas hitam, lalu masuk kembali. Gorden pembatas ruangan pilot dan penumpang selalu tertutup rapat. Ia dan teman-temannya bahkan sempat mencium ada bau gosong, atau bau benda yang terbakar. Tapi tak lama, karena bau itu segera hilang. 

Ketika pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di Jakarta, Diah dan 51 temannya saling bertangisan. Mereka bersyukur karena bisa selamat dari maut. 

Tapi kegembiraan mereka hanya sesaat. Pagi hari, media massa ramai memberitakan pesawat Lion Air hilang kontak, hingga akhirnya dikabarkan jatuh di lautan. Diah tercekat. Nomor penerbangannya memang beda, tapi Diah yakin, itu pesawat sama yang membawanya dari Denpasar.