SOROT 536

Jerat Candu Digital

Seorang warga menggunakan telepon genggamnya di pelosok Mosairo, Nabire, Papua
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Indrayadi TH

Mirisnya ia menekankan bahwa ternyata durasi masyarakat menggunakan internet ada yang lebih dari itu.

img_title Benarkah Mengunyah Permen Karet Bisa Buat Orang Berhenti Merokok?

"Ada pula pengguna yang mengakses internet selama 4-7 jam dalam sehari.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kenyataan itu tentu berdampak serius. Tak hanya masalah kesehatan fisik seperti kualitas penglihatan yang menurun atau memicu back pain, namun juga pada masalah mental disorder hingga adiksi. Bahkan, kini sudah banyak orang yang kecanduan game hingga mengalami disfungsi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

img_title Kecanduan Gadget Adalah Gangguan Mental Serius, Kapan Harus Periksa ke Dokter?

"Jadi tidak mau kuliah, sekolah, dan pertengkaran keluarga. Dia jadi mudah marah, ayah ibunya jadi berantem, dan itu semua disfungsi. Orang yang kecanduan memang sulit menghentikannya. Dari penelitian Neuroimaging pada otak memang ada gangguan pada otaknya. Jadi dia memang tidak bisa menghentikan sendiri hingga butuh terapi." 

Mengenal Kecanduan Digital, Tak Sekadar Ketagihan

img_title Ammar Zoni Jalani Pengobatan Kecanduan Narkoba Setelah Bebas dari Penjara

Mungkin ancaman kecanduan yang ditimbulkan dari penggunaan internet dan perangkat digital belum terlalu berdampak pada kehidupan Anda, namun ancaman tersebut nyata. Sebelum lebih jauh bicara soal kecanduan digital, sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu kecanduan digital.

Secara harfiah kecanduan digital diartikan sebagai perilaku adiksi terhadap konten digital. Pakar psikologi Dr. Neila Ramdhani, M.Si., M.ED dari Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) mengatakan, kecanduan dikenal dengan Internet Addiction Disorder, atau kecanduan internet lewat teknologi digital.

"Kalau kecanduan digital, bukan digitalnya. Tapi isinya. Misalnya game online hingga sosial media. Game yang sifatnya digital dengan tampilan yang bagus karena teknologi digital," ujarnya kepada VIVA di Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, Rabu 16 Januari 2019.

Sementara itu, menurut laman Psycom, Internet addiction disorder adalah kondisi seseorang yang adiksi dan kompulsif menggunakan internet. Kondisi ini biasa disebut iDisorder.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Awalnya kondisi ini diperdebatkan dan diragukan para ahli sebagai hal yang nyata. Namun pada 1995 iDisorder digambarkan sebagai hal satir. Dalam sebuah literatur yang ditulis oleh pakar kesehatan jiwa, Dr. Ivan Goldberg, MD membandingkan kondisi ini dengan kondisi mental dalam kegiatan perjudian.

Namun seiring berjalannya waktu, ternyata kondisi kecanduan internet meningkat pesat. Selain itu yang mengejutkan angka prevalensinya di Amerika dan Eropa memengaruhi 8,2 persen dari populasi. Bahkan ada juga yang menyebutnya mencapai 38 persen. Perbedaan persentase ini akibat tidak adanya standar yang sahih mengenai iDisorder.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut