SOROT 536

Jerat Candu Digital

Seorang warga menggunakan telepon genggamnya di pelosok Mosairo, Nabire, Papua
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Indrayadi TH

Ia menyebut bahwa proses kecanduan terjadi ketika Ventro tagmental atau bagian otak tengah memproduksi hormon pemicu rasa senang (dopamin) yang ditembakkan ke Neucleos acumben (otak bagian depan). Aktivitas 'senang' itu terjadi ketika seseorang mengakses konten-konten internet misalnya medsos, hingga game online. 

img_title Nettox Smartwatch Buatan Mahasiswa UI untuk Atasi Kecanduan Internet

"Karena memunculkan perasaan senang, manusia tidak pernah merasa puas, selalu ingin dilakukan lagi dan lagi. Sehingga dalam otak akan banjir hormon dopamin yang terus menerus ditembak ke otak depan," ujar Rizki kepada VIVA ditemui di Jakarta.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Maka, lanjut Rizki yang terjadi kondisi itu akan memicu kerusakan pada otak depan. Sayangnya, otak depan memiliki berbagai fungsi kognitif seperti berpikir rasional, memorizing, berpikir analitik juga sistem bertahan untuk tidak berbuat kesalahan (breaking sistem).

img_title Kamp Kecanduan Internet di Korea Selatan, Seperti Apa Rasanya?

"Nah, orang-orang yang sudah mengalami adiksi breaking sistem-nya sudah rusak. Akibatnya dia tidak bisa lagi menentukan prioritasnya apa. Kita tahu kita sedang rapat, sedang makan malam bersama, atau sedang rapat penting, tapi dia tetap saja 'phobi' lihat smartphone untuk sekadar cek sosmed."

Mirisnya, korban adiksi digital bisa siapa saja. Dr Rizki menyebut bahwa korban adiksi digital juga tak terbatas usia.

img_title Kecanduan Digital, Definisi, Indikasi dan Cara Mengatasi

"Semua yang menggunakan gadget punya peluang terpapar. Yang tidak terpapar adiksi gadget adalah dia yang tidak memakai. Termasuk anak-anak," ujarnya.

sorot sosial media - akses internet - smartphone

Adiksi gadget sering dialami oleh anak-anak. (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)

Ia juga menyebut bahwa anak-anak lebih rentan terpapar karena kemampuan otak depannya untuk berfikir rasional tidak sama seperti orang dewasa. 

"Kalau orang dewasa minimal masih tahu mana yang rasional mana yang tidak, tapi kalau anak-anak yang dia tahu adalah mana kesenangan dia. Jadi anak-anak itu lah yang sebetulnya paling rentan untuk terpapar adiksi gadget."

Lalu bagaimana mengetahui bahwa seseorang sudah mengalami adiksi? dr Eva menjabarkan 6 ciri-cirinya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ia akan mengalami perilaku kompulsif, lalu adanya konflik interpersonal, konflik dengan aktivitas lain, merasa hilang kendali, withdrawal atau menarik diri dan relapse, atau terjadi secara berulang-ulang."

Jika dibiarkan tentunya akan memicu dampak yang lebih buruk bukan hanya pada fisik tapi juga berdampak ke segala aspek mulai dari aspek psikologis hingga sosial.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut