- ANTARA FOTO/Indrayadi TH
Ia menyebut bahwa proses kecanduan terjadi ketika Ventro tagmental atau bagian otak tengah memproduksi hormon pemicu rasa senang (dopamin) yang ditembakkan ke Neucleos acumben (otak bagian depan). Aktivitas 'senang' itu terjadi ketika seseorang mengakses konten-konten internet misalnya medsos, hingga game online.Â
"Karena memunculkan perasaan senang, manusia tidak pernah merasa puas, selalu ingin dilakukan lagi dan lagi. Sehingga dalam otak akan banjir hormon dopamin yang terus menerus ditembak ke otak depan," ujar Rizki kepada VIVA ditemui di Jakarta.
Maka, lanjut Rizki yang terjadi kondisi itu akan memicu kerusakan pada otak depan. Sayangnya, otak depan memiliki berbagai fungsi kognitif seperti berpikir rasional, memorizing, berpikir analitik juga sistem bertahan untuk tidak berbuat kesalahan (breaking sistem).
"Nah, orang-orang yang sudah mengalami adiksi breaking sistem-nya sudah rusak. Akibatnya dia tidak bisa lagi menentukan prioritasnya apa. Kita tahu kita sedang rapat, sedang makan malam bersama, atau sedang rapat penting, tapi dia tetap saja 'phobi' lihat smartphone untuk sekadar cek sosmed."
Mirisnya, korban adiksi digital bisa siapa saja. Dr Rizki menyebut bahwa korban adiksi digital juga tak terbatas usia.
"Semua yang menggunakan gadget punya peluang terpapar. Yang tidak terpapar adiksi gadget adalah dia yang tidak memakai. Termasuk anak-anak," ujarnya.
![]()
Adiksi gadget sering dialami oleh anak-anak. (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)
Ia juga menyebut bahwa anak-anak lebih rentan terpapar karena kemampuan otak depannya untuk berfikir rasional tidak sama seperti orang dewasa.Â
"Kalau orang dewasa minimal masih tahu mana yang rasional mana yang tidak, tapi kalau anak-anak yang dia tahu adalah mana kesenangan dia. Jadi anak-anak itu lah yang sebetulnya paling rentan untuk terpapar adiksi gadget."
Lalu bagaimana mengetahui bahwa seseorang sudah mengalami adiksi? dr Eva menjabarkan 6 ciri-cirinya.
"Ia akan mengalami perilaku kompulsif, lalu adanya konflik interpersonal, konflik dengan aktivitas lain, merasa hilang kendali, withdrawal atau menarik diri dan relapse, atau terjadi secara berulang-ulang."
Jika dibiarkan tentunya akan memicu dampak yang lebih buruk bukan hanya pada fisik tapi juga berdampak ke segala aspek mulai dari aspek psikologis hingga sosial.