SOROT 536

Jerat Candu Digital

Seorang warga menggunakan telepon genggamnya di pelosok Mosairo, Nabire, Papua
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Indrayadi TH

Kemudian 10 tahun kemudian, iDisorder melahirkan istilah No Mobile Phone Phobia (Nomophobia). Kondisi ini merupakan sindrom ketakutan jika tidak mengakses konten telepon genggam (smartphone). Istilah ini muncul di Inggris lewat riset yang dilakukan oleh lembaga survei, YouGov. Mereka meneliti tentang kegelisahan yang kerap dialami oleh 2.163 responden karena tidak memegang ponsel dalam satu waktu.

img_title Nettox Smartwatch Buatan Mahasiswa UI untuk Atasi Kecanduan Internet

sorot sosial media - akses internet - smartphone

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mereka mengalami kegelisana pada suatu waktu karena tidak bisa mengakses gadget. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

img_title Kamp Kecanduan Internet di Korea Selatan, Seperti Apa Rasanya?

Dalam Ilmu Psikologi, Neila menjelaskan, istilah kecanduan harus melewati beberapa kriteria diagnosis. Kriteria diagnosis ini ada yang digunakan para psikiater atau dokter, itu yang dinamakan pedoman dan penggolongan diagnosis gangguan jiwa (PPDGM). 

"Di sana (PPDGM) memang ada yang namanya kecanduan atau adiksi. Dulu kecanduan itu kecanduan rokok, minuman keras, obat-obatan atau sesuatu yang dimasukkan ke dalam tubuh," ujarnya.

img_title Kecanduan Digital, Definisi, Indikasi dan Cara Mengatasi

Namun akhir-akhir ini menurutnya istilah itu berkembang. "Ternyata ada yang kecanduan judi, kecanduan yang sifatnya kecanduan perilaku (pengin melakukan hal itu lagi dan lagi). Kalau dulu judi, sekarang berkembang sejak ada teknologi. Teknologinya itu tidak nyandu sebenarnya, tapi sesuatu yang dilakukan dengan teknologi itu yang membuat orang nyandu."

Lalu kini apakah kondisi kecanduan tersebut masuk dalam kategori gangguan mental?

Sekelompok psikolog di Amerika Serikat percaya bahwa, orang yang kecanduan digital bisa dibilang mengalami gangguan jiwa jenis baru. Namun hingga kini penetapan gangguan jiwa karena ketergantungan internet memang masih menjadi perdebatan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penetapan diagnosis seputar gangguan mental mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Buku ini digunakan, atau diandalkan, oleh dokter, peneliti, lembaga regulasi obat kejiwaan, perusahaan asuransi kesehatan, perusahaan farmasi, sistem hukum, dan pembuat kebijakan yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA) dan diproduksi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

DSM sekarang dalam edisi kelima, DSM-5, yang diterbitkan pada 18 Mei 2013 lalu. Di dalamnya mengevaluasi pasien di lima sumbu atau dimensi, bukan hanya satu aspek yang luas dari 'gangguan jiwa'. Dimensi ini berhubungan dengan aspek biologis, psikologis, sosial dan aspek lainnya. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut