SOROT 536

Jerat Candu Digital

Seorang warga menggunakan telepon genggamnya di pelosok Mosairo, Nabire, Papua
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Indrayadi TH

Dalam kasus kecanduan internet yang tercantum dalam DSM-5 baru gambling (judi online) sedangkan untuk gane dimasukkan ke bab yang harus dipelajari lebih lanjut sehingga belum dimasukkan ke dalam diagnosa. 

img_title Benarkah Mengunyah Permen Karet Bisa Buat Orang Berhenti Merokok?

Sementara itu, Psikiatri, dr. Eva Suryani, SpKJ mengatakan bahwa fenomena kecanduan terhadap konten gadget adalah nyata, dalam klasifikasi gangguan jiwa karena gejalanya menyerupai kecanduan narkoba. Dampaknya pun bisa nampak secara fisik, psikologis, maupun sosial. "Namun secara formal gangguan ini belum dimasukkan dalam klasifikasi diagnosis baik ICD 10 maupun DSM 5," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penyebab Kecanduan Digital

img_title Kecanduan Gadget Adalah Gangguan Mental Serius, Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Seperti pada banyak kasus soal adiksi, kecanduan digital memiliki banyak faktor pemicu. dr Eva menyebut ada 4 faktor yang melatarbelakangi terjadinya kecanduan digital, yaitu faktor internal, eksternal, situasional, dan faktor sosial.

"Faktor internal seperti aspek kontrol diri yang rendah, namun sifat sensation seeking-nya tinggi. Lalu self esteem-nya rendah, tapi di sisi lain ia juga memiliki kepribadian ekstraversion yang tinggi, habit menggunakan gawai yang tinggi, expectacy effect yang tinggi dan kesenangan pribadi yang tinggi," ujarnya.
 
Lalu faktor situasional, dipengaruhi oleh tingkat stres yang tinggi, kesedihan, kesepian, kecemasan, jenuh belajar, hingga tidak ada kegiatan saat waktu luang. 

img_title Ammar Zoni Jalani Pengobatan Kecanduan Narkoba Setelah Bebas dari Penjara

"Faktor eksternal, terkait dengan besarnya paparan media dalam memasarkan gawai dan fasilitas yang disediakan. Sementara itu faktor sosial mengarah pada perilaku yang harus dilakukan untuk memuaskan kebutuhan berinteraksi yang distimulasi atau didorong orang lain."

Di sisi lain, laman Psycom menulis bahwa ada bukti fisik bahwa adiksi digital mampu memengaruhi perubahan struktur otak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Beberapa bukti menunjukkan bahwa pecandu internet memiliki susunan otak yang mirip dengan pecandu bahan kimia seperti misalnya obat-obatan dan alkohol. Selain itu terjadi perubahan struktur otak di area prefrontal, area ini terkait dengan ingatan detail, perhatian, perencanaan dan memprioritaskan tugas. Artinya, pecandu internet tidak bisa membedakan mana yang jadi prioritas dalam hidupnya.

Pakar Neurosience Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), dr.Rizki Edmi Edison juga menyebutkan hal serupa. Menurutnya kecanduan digital juga dipengaruhi efek hormon dopamin yang diproduksi otak saat mengakses konten digital. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut