- ANTARA FOTO/Indrayadi TH
Dalam kasus kecanduan internet yang tercantum dalam DSM-5 baru gambling (judi online) sedangkan untuk gane dimasukkan ke bab yang harus dipelajari lebih lanjut sehingga belum dimasukkan ke dalam diagnosa.Â
Sementara itu, Psikiatri, dr. Eva Suryani, SpKJ mengatakan bahwa fenomena kecanduan terhadap konten gadget adalah nyata, dalam klasifikasi gangguan jiwa karena gejalanya menyerupai kecanduan narkoba. Dampaknya pun bisa nampak secara fisik, psikologis, maupun sosial. "Namun secara formal gangguan ini belum dimasukkan dalam klasifikasi diagnosis baik ICD 10 maupun DSM 5," ujarnya.
Penyebab Kecanduan Digital
Seperti pada banyak kasus soal adiksi, kecanduan digital memiliki banyak faktor pemicu. dr Eva menyebut ada 4 faktor yang melatarbelakangi terjadinya kecanduan digital, yaitu faktor internal, eksternal, situasional, dan faktor sosial.
"Faktor internal seperti aspek kontrol diri yang rendah, namun sifat sensation seeking-nya tinggi. Lalu self esteem-nya rendah, tapi di sisi lain ia juga memiliki kepribadian ekstraversion yang tinggi, habit menggunakan gawai yang tinggi, expectacy effect yang tinggi dan kesenangan pribadi yang tinggi," ujarnya.
Â
Lalu faktor situasional, dipengaruhi oleh tingkat stres yang tinggi, kesedihan, kesepian, kecemasan, jenuh belajar, hingga tidak ada kegiatan saat waktu luang.Â
"Faktor eksternal, terkait dengan besarnya paparan media dalam memasarkan gawai dan fasilitas yang disediakan. Sementara itu faktor sosial mengarah pada perilaku yang harus dilakukan untuk memuaskan kebutuhan berinteraksi yang distimulasi atau didorong orang lain."
Di sisi lain, laman Psycom menulis bahwa ada bukti fisik bahwa adiksi digital mampu memengaruhi perubahan struktur otak.
Beberapa bukti menunjukkan bahwa pecandu internet memiliki susunan otak yang mirip dengan pecandu bahan kimia seperti misalnya obat-obatan dan alkohol. Selain itu terjadi perubahan struktur otak di area prefrontal, area ini terkait dengan ingatan detail, perhatian, perencanaan dan memprioritaskan tugas. Artinya, pecandu internet tidak bisa membedakan mana yang jadi prioritas dalam hidupnya.
Pakar Neurosience Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), dr.Rizki Edmi Edison juga menyebutkan hal serupa. Menurutnya kecanduan digital juga dipengaruhi efek hormon dopamin yang diproduksi otak saat mengakses konten digital.Â