SOROT 536

Jurus Hadang Gadget

sorot sosial media - akses internet - smartphone
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

VIVA – Bos saya adalah pria yang sangat baik, dan saya menikmati bekerja dengannya. Tapi ada satu pengecualian.

img_title Bangun Ekosistem Emas Berstandar Internasional, Direktur Pegadaian Resmi Jadi Ketua Umum IBMA

Kami adalah perusahaan yang sangat kecil, jadi dia tak memiliki asisten untuk membantunya menangani lalu lintas panggilan. Inilah masalahnya. Ia menjadi orang yang terus-menerus mawas terhadap ponsel. Ia menjaga supaya telepon genggamnya tetap terlihat setiap saat. Sekalipun itu sedang rapat.  Bahkan pada saat rapat itu, meski ia tak menjawab telepon, setidaknya bos saya berhenti sejenak untuk melihat, kemudian memutuskan apakah panggilan itu harus segera diterimanya atau dapat menunggu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lantas, saya jadi bertanya-tanya. Jika mendapati bos saya sedang merunduk untuk memeriksa ponselnya, apakah saya harus terus berbicara atau berhenti sampai ia mendongak? Karena sering saya harus mengulangi materi yang saya sampaikan setiap kali notifikasi telepon genggam memecah konsentrasinya. 

img_title 4 Wisatawan Jatuh dari Tebing usai Selfie di Kawasan Pantai Semeti NTB, Satu Tewas

Beberapa panggilan itu memang terkait dengan pekerjaan, tapi tak jarang bersifat pribadi. Saya mengerti dia berdedikasi untuk keluarga. Namun perilaku ini tampaknya tidak profesional dan buruk bagi bisnis. Adakah yang bisa saya lakukan tanpa dianggap sebagai orang yang tak simpatik? 

Penggalan cerita di atas adalah masalah yang dialami salah satu karyawan di New York. Ia mengirim surat pembaca di laman Seattle Times untuk mendapat tanggapan dari ahli mengenai perilaku atasannya yang kecanduan ponsel. Artikel ini dimuat pada 19 Desember 2018, dengan judul My Boss is Addicted to His Phone. What can I do?

img_title Dua Jet Tempur F-15 Korsel Tabrakan Gara-gara Pilot Sibuk Foto Selfie

Jika ditelisik dengan kondisi masa kini, masalah karyawan yang tak disebutkan namanya itu merupakan problematika umum di era ponsel seperti sekarang. Situs networkworld.com menyebutkan, sebagian besar pengguna gadget menyentuh ponselnya sebanyak 2.617 kali dalam sehari, dan jumlah terbanyak mencapai 5.427 kali sehari bagi pengguna yang sudah kecanduan.

Terkait dengan candu pada telepon genggam itu, ada istilah nomofobia yang mulai berkembang sejak tahun 2010. Nomofobia berasal dari kata no-mobile phone-phobia, yakni suatu sindrom ketakutan jika tak dapat mengakses telepon genggam. 

sorot sosial media - akses internet - smartphone

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Orang-orang yang susah lepas dari gadget

Mengutip dari Wikipedia, istilah Nomofobia pertama kali muncul dalam suatu studi tahun 2010 di Britania Raya oleh YouGov. Ia meneliti tentang kegelisahan yang dialami di antara 2.163 pengguna telepon genggam. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut