- VIVAnews/Fajar Sodiq
VIVAnews - Kedua kakinya tanpa lelah menyusuri jalan pegunungan yang tandus. Meski sandal jepit yang dia pakai sudah mulai menipis, ia tak kehilangan harapan mencari sumber air bersih demi kelangsungan hidup keluarga dan warga di sekitar tempat tinggalnya.
Siang itu, panas begitu terik. Bulir-bulir peluh tampak mengalir dari wajah ke lehernya yang sudah mulai keriput. Namun, ia tak keberatan berbagi cerita soal desanya yang kerap dilanda bencana kekeringan.
Dialah Nito, pria berusia 61 tahun pensiunan Kepala Urusan (Kaur) Pemerintahan (Jawa, Carik), Dusun Gesing RT 1, RW I, Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Dia kini menyambung hidup dengan bertani.
Nito sudah biasa memijakkan kaki di tanah kapur yang terjal. Sejak ia lahir, desanya itu memang sudah kesulitan air.
“Bagaimana lagi, saya lahir disini, mbah dan buyut saya juga dulu hidupnya disini, kesulitannya sama tidak gampang mencari air untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Nito mengawali cerita.
Kecamatan Kabuh, secara geografis terletak di sebelah utara pusat kegiatan pemerintahan Kabupaten Jombang, jaraknya sekitar 25 kilometer. Jauh dari pusat keramaian dan berbagai kegiatan ekonomi. Letaknya persis di Pegunungan Celeng, dengan jenis batuan cadas yang keras.
Wilayah Kabuh berbatasan dengan Sungai Brantas, yang memisahkan sejumlah kecamatan dengan pusat Kota Kabupaten Jombang. Sebelah barat, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Lamongan.
Kabuh termasuk tujuh kecamatan yang selalu kering, karena tidak ada sumber air. Kecamatan lainnya yang juga sama adalah, Kudu, Ngusikan, Plandaan, Ploso, Bareng dan Wonosalam.
Menuju Kecamatan Kabuh, dibutuhkan kesabaran dan kehati-hatian. Lokasi pegunungan terjal, jalanan menanjak dan berkelok harus diwaspadai saat melintas. Tak seluruh jalannya beraspal.
Itu membuat sebagian wilayah berdebu. Truk bermuatan berat menjadi penyumbang banyaknya debu. Jika ada dua kendaraan besar yang berpapasan, juga harus waspada, agar kendaraan tidak tergelincir.
Masuk ke wilayah Kecamatan Kabuh, tantangan serupa masih harus dirasa. Jalanan batu cadas bercampur kapur harus dilalui. Jalanan naik turun menjadi lokasi yang harus disusur. Belum genap dua tahun jalanan desa dicor di sisi kanan dan kiri, masing-masing panjangnya 1 meter.