SOROT 317

Krisis Petani di Negeri Agraris

Petani di Malang
Sumber :
  • VIVAnews/Dyah Ayu Pitaloka

Namun, di sejumlah negara berkembang, 60 sampai 80 persen penduduknya tak mampu memenuhi kebutuhan pangan untuk warganya.

Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan, pada 2015 jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 243 juta jiwa. Dengan konsumsi beras per kapita per tahun 139 kilogram, dibutuhkan beras 33,78 juta ton.

Pada 2030, kebutuhan beras untuk pangan akan mencapai 59 juta ton untuk jumlah penduduk yang diperkirakan 425 juta jiwa. Itu artinya, Indonesia berisiko mengalami krisis pangan pada 2025.

Untuk itu, BPS menyarankan agar pemerintah meningkatkan produksi pangan. Karena, pertumbuhan jumlah penduduk mengikuti deret ukur. Sementara itu, peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung.

Selain itu, sentra produksi pangan hanya ada di daerah tertentu. Sementara itu, wilayah lain juga membutuhkan makanan, namun ongkos distribusi pangan mahal. Kondisi itu akan diperparah jika krisis petani tak segera diatasi.

Henry Saragih mengatakan, jika lahan pertanian semakin sempit, lapangan pekerjaan akan semakin sulit. Pengangguran dan arus urbanisasi akan besar. “Kita akan tergantung impor pangan dan devisa kita akan terkuras. Ini alarm tanda bahaya,” ujarnya. 

Kementerian Perdagangan mengakui ada peningkatan impor komoditas pangan. Kemendag mencatat, impor pertanian pada periode 2009-2013 meningkat 16,04 persen secara nilai. Sementara itu, secara volume, impor tercatat tumbuh rata-rata 12,43 persen.

Dikutip dari data Kemendag, nilai impor pertanian pada 2009 senilai US$4,752 miliar dan naik menjadi US$6,187 miliar pada 2010. Pada 2011, nilai impor turun menjadi US$9,395 miliar dan ini yang tertinggi selama periode tersebut. Lalu, impor produk pertanian turun menjadi US$8,256 miliar pada 2012 dan naik lagi menjadi US$8,657 miliar.

Untuk periode Januari-Agustus 2014 tercatat nilai impor senilai US$6,356 miliar dan meningkat 9,9 persen dibandingkan periode Januari-Agustus 2013 yang mencapai US$5,783 miliar.

Dari segi volume rata-rata tercatat tumbuh 12,43 persen selama 2009-2013. Pada 2009, volume impor pertanian mencapai 8,925 juta ton, 10,955 juta ton pada 2010, dan 14,122 juta ton pada 2011. Pada 2012, volume impornya turun menjadi 12,955 juta ton, dan naik kembali menjadi 14,722 juta ton pada 2013.

Untuk periode Januari-Agustus 2014 tercatat volume impor sebanyak 10,576 juta ton dan tumbuh 11,17 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 9,514 juta ton.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Lille vs Galatasaray: Calvin Verdonk Dinanti Duel Mengerikan Lawan Victor Osimhen dan Leroy Sane di Liga Champions
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut