Sumber :
- VIVAnews/Dyah Ayu Pitaloka
![]()
Buruh tani sedang membajak lahan padi dengan traktor (Foto: VIVAnews/Dyah Ayu Pitaloka)
Mimpi Kedaulatan Pangan
Baca Juga
Ia mengatakan, selama ini pertanian tidak menarik dan cenderung ditinggalkan orang karena Indonesia kurang gigih mengendalikan pupuk dan meningkatkan produksi benih. Juga kurang serius memperbaiki irigasi.
Andrinof berjanji, guna meningkatkan kesejahteraan petani, pemerintah akan memberikan hak kelola lahan bagi petani yang tidak punya lahan atau yang selama ini cuma jadi buruh. Upaya itu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas.
“Petani kita sebenarnya tidak butuh peningkatan kualitas dan kemampuan. Mereka banyak yang lebih pintar dari sarjana pertanian. Masalah mereka adalah pupuk dan benih serta lemah di pemasaran,” ujarnya kepada VIVAnews, Kamis 6 November 2014.
Pemerintah menargetkan 1 juta hektare lahan baru. Selain itu, ada target membangun irigasi dan bendungan serta menjamin ketersediaan pupuk dalam jumlah dan waktu. Dengan itu, swasembada pangan ditargetkan tercapai dalam tiga tahun.
Selanjutnya, swasembada dalam pengertian ketersediaan cadangan dalam sekian bulan. Komoditas yang akan digenjot di antaranya padi, jagung, dan kedelai serta daging. Pemerintah akan mendorong dan memajukan kawasan sentra-sentra peternakan.
Pemerintah juga yakin akan mampu melakukan regenerasi petani. Supriyadi mengatakan, Kementan telah mengadakan program regenerasi petani di Indonesia dengan mengirim 30-60 anak bangsa untuk belajar dengan konsep magang di Jepang.
Mereka difasilitasi dan dibiayai untuk persiapan jadi petani serta belajar ilmu pertanian di Negeri Sakura itu. "Kami kirim pemuda ke luar negeri, seperti ke Jepang. Balik lagi ke sini jadi petani dan buka outlet yang ada kaitannya dengan pertanian,” ujarnya.
Para pemuda yang dikirim ke Jepang akan menjadi petani muda yang kompeten guna mengembangkan pertanian di Indonesia. Menurut Supriyadi, dengan penyuluhan dan pelatihan akan membuat petani lebih berkualitas dan berkompeten. "Untuk mengganti tenaga petani itu, kami ganti dengan petani berdasi," tuturnya.
Halaman Selanjutnya