- VIVAnews/Mustakim
Menurut dia, batu jenis itu sudah dipakai oleh keluarga dinasti Cina secara turun temurun untuk pengobatan penyakti dalam. Secara ilmiah, lanjut Agus, giok memiliki pori-pori yang sangat mudah menyerap unsur-unsur.
Selain itu, batu giok juga mempunyai pembawaan dingin sehingga bisa menyerap toksin, racun tubuh. Selain itu ada batu nephrite. “Itu artinya ginjal dalam bahasa Yunani. Orang dulu pakai untuk penyembuhan disfungsi ginjal,” ujarnya menjelaskan.
Seperti Dono, Agus juga menilai batu akik memiliki energi positif dan membuat orang lebih percaya diri. Sebab menurut dia, batu akik terbentuk dari alam dan terjadi selama jutaan tahun.
Untuk itu, batu pasti memiliki pengaruh pada pemakainya. Namun menurut dia, pengaruhnya lebih banyak ke psikis. “Jadi kalau saya pakai, percaya diri untuk ngomong untuk negosiasi, bukan karena kekuatan batu itu.”
Pembawa Berkah
Demam batu akik ini tak hanya dinikmati oleh perajin dan pedagang. Fenomena ini juga membawa berkah tersendiri bagi para penambang batu. Dani (34) misalnya. Warga Kampung Tanjakan Pasang, Desa Sukarame, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini mengaku banyak menerima pesanan batu dalam dua tahun terakhir.
Dengan tren batu akik yang naik dan harga batu yang selangit berpengaruh terhadap pendapatan para penambang, termasuk dia. Apalagi jika ada pesanan langsung dari pedagang.
"Dulu harga batu sangat murah. Kalau sekarang, harganya naik, apalagi kalau ada pesanan langsung, harganya lumayan,” ujarnya kepada VIVAnews, Rabu, 26 November 2014.
Menurut dia, untuk batu panca warna satu kwintal harganya sekitar Rp10 juta. Sementara, untuk batu topas mencapai Rp40 juta perkuintal. Hasil penjualan itu dibagi antara penambang dengan pemilik lahan.
"Hasil tambang rata-rata dapat dua kuintal atau satu kuintal batu topas. Dibagi bisa sampai Rp2 juta," ujarnya menambahkan.
Dani mengaku sudah menekuni profesi penambang batu sejak dua puluh tahun lalu. Menurut dia, sejak batu akik booming hampir semua warga desa berbondong-bondong menjadi penambang.
Bahkan, sejumlah warga yang sebelumnya bekerja di Bandung dan Jakarta memilih pulang dan menjadi penambang. Pasalnya, tak perlu modal besar untuk mengais rezeki dari pekerjaan ini.