- ANTARA/Hafidz Mubarak A.
Mereka mencari dana tambahan dengan mempertaruhkan kariernya sebagai pemain profesional.
"Pasti (sulit). Situasi dalam ketidakpastian itu sangat sulit bagi pemain. Bagaimana mau latihan kalau jadwalnya tidak jelas. Banyak juga klub yang membubarkan tim, otomatis kondisi pemain kembali ke titik nol," kata Ponaryo Astaman, ketua Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI).
”Bagi pemain yang punya pekerjaan tetap seperti pegawai negeri atau yang punya usaha sampingan lainnya, mungkin bisa bertahan. Tapi, banyak teman-teman yang menggantungkan hidupnya hanya dari sepakbola,” kata Striker Persipura, Boaz Solossa kepada tvOne.
FIFA mencatat ada 66.960 pemain di Indonesia. Itu sudah termasuk pemain profesional, junior, amatir, dan wanita. Di ISL, sebagai kompetisi kasta tertinggi ada 428 pemain lokal dan 51 pemain asing. Sebagian besar dari mereka sangat menggantungkan hidup dari sepakbola.
Lihat data lengkapnya pada .
Suporter Resah
Suporter juga resah dengan kondisi persepakbolaan saat ini. Suporter Persib Bandung yang tergabung dalam Viking bahkan turun ke jalan untuk menyuarakan kegelisahannya. Diawali dengan long march dari Stadion Persib, mereka pun menitipkan tujuh tuntutannya kepada DPRD Jawa Barat, Kamis, 4 Juni lalu.
Mereka tidak membela siapa pun, baik PSSI maupun menpora. Namun, salah satu poin dari tujuh tuntutan yang disampaikan jelas meminta Menpora Imam Nahrawi, mencabut SK pembekuan PSSI. Mereka juga menuntut PSSI segera mereformasi diri.
Kegelisahan juga dirasakan oleh suporter Arema, Aremania. Ahmad Gozali, Aremania Koordinator Wilayah Dinoyo dengan lantang menyatakan sanksi dari FIFA merugikan bagi sepakbola sekaligus masyarakat yang hidup dari bola. Suporter adalah kelompok yang paling dirugikan dengan matinya sepakbola di Indonesia.
“Kreativitas suporter tidak berkembang, kami ada karena klub. Tanpa kompetisi kami mati,” kata Ahmad Gozali, Kamis 4 Juni 2015.
Namun, ada juga yang memandang bahwa sanksi FIFA bukan kiamat bagi sepakbola Indonesia. Yosef “El Kepet”, pentolan Aremania dari era Galatama, contohnya. Menurut dia, tidak selamanya sanksi FIFA itu buruk. Sebab, ada negara yang justru maju setelah disanksi FIFA.
“Dengan kompetisi berkualitas, kisruh sepakbola sudah hilang, pasti akan ada penilaian kembali kepada Indonesia. Tapi, ini juga tergantung bagaimana pemerintah memajukan sepakbola ini,” katanya.