- ANTARA/Hafidz Mubarak A.
Menpora Belum Melunak
Setelah jatuhnya sanksi FIFA, menpora melalui Tim Transisi semakin giat dalam menjalankan fungsinya sebagai "PSSI tandingan". Tim yang dipimpin oleh mantan pimpinan KPK, Bibit Samad Rianto itu bahkan ngotot menggulirkan kompetisi di Indonesia, meski tanpa supervisi FIFA dan AFC.
Banyak yang mengatakan bahwa statusnya tak lebih dari turnamen tarkam.
Salah seorang suporter asal Malang, Yosef “El Kepet”, menilai, jika pemerintah membuat kompetisi di bawah sanksi FIFA, maka timnas Indonesia tetap tidak bisa tampil di luar negeri.
“Ujungnya kompetisi adalah agar ada timnas Indonesia yang berkualitas dan juara. Kalau kena sanksi mana bisa kompetisi di luar negeri. Kompetisi jadi seperti tarkam, lokalan saja,” katanya.
Anggota Pokja Komunikasi, Tim Transisi Cheppy T Wartono, enggan menanggapi pendapat ini. Namun, menurut dia, pihaknya tetap akan menggelar turnamen dalam waktu dekat ini.
"Saya tidak mau mengomentari orang menyebutnya apa, tapi yang jelas kami akan menyelenggarakan open tournament tersebut dengan menganut standar AFC,” kata Cheppy.
Menurut Cheppy, Indonesia disanksi FIFA tidak boleh bermain di pentas internasional. Meski demikian, apa pun yang akan mereka lakukan dilaporkan ke AFC dan FIFA.
”Masalah mereka tidak mau mengakui, itu hak mereka. paling tidak kami sudah melaporkan kegiatan itu,” ujarnya.
Menpora juga kerap mengatakan bahwa pihaknya sudah memiliki roadmap dalam memajukan sepakbola Indonesia. Menurut Cheppy, bila berjalan konsisten, dalam waktu 3-5 tahun ke depan, Indonesia sudah mampu meraih gelar juara di tingkat Asia Tenggara bahkan Asia.
”Dengan asumsi kita memulai dari pembinaan usia dini 13 tahun ke atas,” kata Cheppy.
Cheppy tidak memungkiri bahwa pengakuan dari FIFA sebenarnya perlu. Namun, itu tidak ada artinya bila tidak diikuti dengan prestasi. “Roadmap kan untuk mencari prestasi dan sanksi FIFA kan tidak seumur hidup. Sanksi FIFA ada yang terbilang hari, bulan dan paling lama dua tahun,” ujarnya.
“Pengakuan dari FIFA perlu, tapi apakah kita tak malu diakui FIFA, tapi peringkatnya di bawah Timor Leste? Di mana harga diri bangsa kalau prestasi kita di bawah Timor leste,” katanya.