- ANTARA/Hafidz Mubarak A.
“Tadinya kami mau apply buat expert full. Jadi, mereka mengirimkan pelatih dan wasit pengalaman untuk memberikan pelatihan, itu juga batal,” kata Azwan.
“AFC juga rencananya mau memberi bantuan beberapa lapangan mini, tidak cuma satu. Peralatan lapangan lengkap. Tapi, tinggal mimpi, tinggal kenangan, padahal semuanya gratis.”
Menurut Azwan, setiap tahun PSSI mendapat bantuan dari FIFA berupa FIFA Financial Assistance Programme (FFAP) senilai US$250 ribu. Tahun lalu, PSSI juga dapat bonus Piala Dunia US$500 ribu. Namun, dana ini terancam disetop setelah sanksi FIFA turun.
Sanksi FIFA juga membuat Indonesia batal tampil di kualifikasi Piala Dunia 2018. Padahal sesuai jadwal, Indonesia harusnya sudah berhadapan dengan China Taipei (11 Juni 2015) dan Irak (16 Juni 2015) pada penyisihan Grup F.
Selain itu, AFC telah "menendang" Indonesia dari Piala Asia U-16 dan kualifikasi Piala Asia U-19. Sementara itu, yang terbaru adalah, AFC telah resmi mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah untuk Piala AFF U-16 dan AFF U-19.
Di level klub, AFC juga telah memastikan Persipura Jayapura tersingkir dari babak 16 AFC Cup 2015. Padahal sebelumnya, Mutiara Hitam masih menyimpan asa untuk bertarung melawan Pahang FA, meski sebelumnya sempat tertunda akibat visa tiga pemain lawan yang tidak terbit.
Pembatalan ini kemudian diikuti dengan pembubaran tim Persipura. Pembubaran diumumkan Jumat, 5 Juni 2015 dalam sebuah acara jumpa pers yang digelar di Jayapura.
Ketua Umum Persipura, Benhur Tomi Mano, mengatakan bahwa kontrak seluruh pemain diputus. Alasannya jelas, sanksi dari FIFA. Mereka pun menuntut pertanggungjawaban Menpora Imam Nahrawi.
"Detik ini, menit ini, dan jam ini juga tim Persipura dibubarkan. Kontrak pemain diputus," kata Benhur dalam rilis yang diterima wartawan, Jumat 5 Juni 2015.
Sejak kompetisi di Tanah Air terhenti mulai 17 April lalu, klub-klub sudah banyak yang membubarkan timnya dan semakin banyak yang mengikutinya usai jatuhnya sanksi FIFA. Hal ini harus dilakukan demi menghindari kerugian yang lebih besar akibat terhentinya dana sponsor.
Imbas dari semuanya, pemain tentu saja menjadi pihak yang paling menderita. Terhentinya kompetisi telah membuat sejumlah pemain, bahkan yang sempat berlabel timnas harus tampil di pertandingan antarkampung (tarkam) demi menjaga dapur rumahnya tetap mengepul.