- ANTARA/Septianda Perdana
Untuk itu, pemerintah daerah akan mengupayakan menambah produksi di atas jumlah tersebut. "Kita terus berupaya untuk meningkatkan produksi di tingkat petani. Karena, kalau produksinya meningkat, petani kita harapkan sejahtera.”
Pemkab Aceh Tengah mengklaim, program-program yang mereka lakukan bertujuan meningkatkan taraf hidup petani. Sejumlah program yang sudah dilakukan di antaranya, pemberian pupuk organik, intensifikasi kopi dan kegiatan lain, baik yang menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tengah serta Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA).
![]()
Meningkatnya ekspor dan penjualan Kopi Gayo tak berbanding lurus dengan kesejahteraan para petani. Foto: ANTARA/Ampelsa
Sulwan menjelaskan, sebenarnya program pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup petani kopi cukup banyak. Namun, mereka terkendala karena keterbatasan dana. Akibatnya, pemerintah hanya memilih sejumlah kegiatan prioritas, seperti rehabilitasi, mengganti atau melakukan peremajaan tanaman kopi.
Selain itu, pemkab juga berusaha mendapatkan varietas yang lebih baik serta pemanfaatan lahan yang lebih efektif. “Kita juga melakukan pembinaan terhadap kelompok tani melalui Sistem Kebersamaan Ekonomi (SKE) yang dilandasi oleh kemitraan, agar para petani bisa mandiri, dengan benar-benar mencari mitra positif yang saling menguntungkan, dengan harapan nilai tawar petani semakin baik.”
Miftakhul Kirom menyampaikan pendapat serupa. Sekretaris Eksekutif Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) ini mengakui, dana pemerintah untuk memberdayakan petani kopi terbatas. Menurut dia, AEKI sudah menyampaikan kepada pemerintah supaya memberikan perhatian kepada petani kopi. Karena, kopi Indonesia sudah dikenal di dunia.
“Kendala kita karena permintaan kopi semakin tinggi, baik di luar maupun dalam negeri, namun tingkat produktifitas kopi kita masih rendah,” ujarnya.
Ia berharap, dengan meningkatnya permintaan akan menambah pendapatan petani. Sebagai gambaran, selama ini dalam 1 hektare hanya menghasilkan 750 kg, dengan meningkatnya produktivitas menjadi 1 ton atau 1,5 ton, petani akan memperoleh pendapatan yang besar. “Itu yang kita dorong ke pemerintah supaya berikan perhatian lebih ke petani.”
Harapan yang sama juga disampaikan Sarhan. Petani kopi ini mengakui, pemerintah memang sudah melakukan sejumlah program, seperti pelatihan kelompok tani. Namun menurut dia, program itu masih sebatas seremonial.