- VIVA.co.id/Riska Herliafifah
Kemudian pengunjung akan melihat kapal-kapal tradisional dalam ukuran asli dan miniatur dari berbagai daerah di Indonesia. Lengkap, dari sabang sampai merauke. Lantai dua lebih berisi patung-patung menjelaskan siapa saja yang pernah datang ke Indonesia. Jepang, Belanda, Spanyol, hingga sedikit sejarah Jakarta dengan patung Fatahillah.
Di sudut taman Fatahillah, terdapat sebuah kedai yang selalu ramai pengunjung. Letaknya bersebelahan dengan Bangi Kopi dan kafe Historia. Dari kejauhan, tulisan Djakarte sangat mencuri perhatian. Masuk ke dalam, jejeran meja dan bangku ‘jadul’ terisi penuh, pelayan sibuk wara-wiri memenuhi pesanan pengunjung.
Bangunan peninggalan Belanda bernama Kedai Seni Djakarte ini terdiri dari dua lantai. Di lantai satu, pengunjung lebih diajak untuk kembali ke masa lalu. Mulai dari arsitektur, interior, dan berbagai frame-frame lukisan yang menggambarkan suasana kedai di masa lalu. Nuansanya lebih temaram, cocok untuk kongko berlama-lama .
Naik ke lantai dua, pengunjung bisa melihat berbagai lukisan karya si empunya kedai yang juga seorang seniman. Di lantai dua, jendela-jendela besar membuat cahaya dengan mudah menerabas masuk ke ruangan.
“Tahun 1986-an pernah dijadikan kantor untuk gudang alkohol ke apotek-apotek. Pernah dikontrakkan ke orang dan jadinya malah enggak terurus. Dahulu ini hampir ambruk. Atapnya habis,” ujar pemilik Kedai Seni Djakarte, Susi Ratnawati.
Semenjak dimiliki Susi, gedung telah mengalami renovasi tiga kali. Pada tahun 2012, 2014, dan 2015. Pada tahun inilah, ujar Susi, ia mendapat bantuan dari UNESCO untuk merenovasi gedung tersebut.
“Kebetulan orang UNESCO-nya orang Jepang yang suka banget sama gedung ini. Dia punya dana untuk perbaikan gedung di Kota tua,” ucap Susi.
Untuk di kawasan kota tua, kedai ini terbilang murah meriah. Cocok bagi kantong pelajar hingga pekerja. Harga minuman dimulai dari Rp15.000, makanan Rp22.000– Rp40.000.
Menjelajahi Monas dan sekitarnya
Kawasan lainnya yang sangat kental dengan bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda adalah di sekitar Monas. Dalam buku Sejarah Perkembangan Kota Jakarta karya Abdurrachman Surjomihardjo diceritakan bahwa pada tahun 1818, Gubernur Jenderal Herman William Daendels membuka sebidang tanah yang diberi nama Koningsplein. Luasnya sekitar 1 x 0,85 kilometer. Kini, tanah lapang tersebut dikenal sebagai Medan Merdeka atau lapangan Monas.