- VIVA.co.id/Riska Herliafifah
“Gedung ini kan the second building tertua di kawasan Museum Fatahillah. Berdiri tahun 1805, sebelumnya ini tempat kediaman gubernur pada zamannya,” ujar Host Receptionist Café Batavia, Tuti, kepada VIVA.co.id.
Sempat menjadi kediaman gubernur atau resident house, galeri, coffee shop, gedung yang kayu-kayunya masih asli tersebut berubah menjadi Café Batavia pada 1992. Kini, kafe ini lebih populer di kalangan turis Belanda karena merunut dari sejarahnya.
Dari kompleks Kota Tua, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Tidak terlalu jauh, tapi memang harus memutar jalan. Masuk pelabuhan memang harus berpacu dengan nyali. Banyak truk-truk membawa barang untuk didistribusikan ke kapal. Masuk ke sini hanya membayar Rp3.000 untuk motor dan Rp5.000 untuk mobil.
Sesampainya di sana, banyak kapal phinisi bersandar. Di Pelabuhan bisa melihat bagaimana barang-barang dari jawa didistribusikan ke pulau lain. Seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Rata-rata, mereka berangkat di sore membawa semen dan logistik.
Setelah takjub melihat kapal-kapal besar, langkahkan kaki ke Museum Bahari. Letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa, sekitar 500 meter. Tempat ini dahulunya adalah gudang penyimpanan rempah-rempah.
![]()
Lukisan Laksamana Malahayati di Museum Bahari, Jakarta.
Suharto, pemandu wisata di sana menceritakan, museum ini dibagi menjadi empat bagian. Pabean atau tempat sitaan, kantor navigasi yang sekarang jadi ruang kepala museum, gudang penyimpanan rempah, dan Menara Syahbandar yang difungsikan sebagai mercusuar di masa lalu.
Menara Syahbandar dibangun pada 1839 untuk memantau pergerakan Pelabuhan Sunda Kelapa. Namun saat ini, bangunan tersebut mengalami kemiringan lima derajat karena abrasi air laut. Menara memiliki 56 anak tangga dengan tinggi 18,3 meter, panjang empat meter dan lebar enam meter. Dari atas sini, pengunjung bisa melihat pemandangan Pelabuhan Sunda Kelapa, laut lepas, dan sebagian Jakarta.
Menuju bagian dalam museum, pengunjung harus berjalan sekitar 50 meter melewati pasar ikan. Desainnya seperti benteng dengan meriam di bagian depan. Bangunan ini terdiri dari dua lantai.
Perjalanan menjelajahi bahari Indonesia dimulai dari sebuah peta yang menggambarkan kondisi Jakarta di tahun 1800-an. Ada pula berbagai penjelasan mengenai kekayaan rempah-rempah nusantara.