- VIVA.co.id/Riska Herliafifah
Tepat di depan pintu masuk Masjid Istiqlal berdiri Gereja Katedral dengan arsitektur Neo-Gotik khas Eropa. Meski demikian, bangunan Katedral saat ini sesungguhnya bukan gedung gereja yang asli. Sebab, Katedral yang diresmikan pada 1810 mengalami kebakaran pada 1826 dan kemudian roboh di tahun 1890.
![]()
Gereja Katedral yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans. FOTO: VIVA.co.id/Riska Herliafifah
Katedral yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.
Di dalam Katedral ini terdapat museum yang diresmikan pada tanggal 28 April 1991. Seperti dilansir situs web Katedral Jakarta, benda-benda yang disimpan meliputi alat ibadat seperti Monstrans bercorak barok yang digunakan Pastor Limburg pada tahun 1700. Detailnya memperlihatkan relief seekor Domba duduk dia tas sebuah Kitab, yang diyakini lambang Yesus sebagai Anak Domba Tuhan. Koleksi lain berupa Tongkat gembala dan piala yang diterima Mgr. A. Claessens, pastor Agama Katolik yang datang ke Indonesia sekaligus pendiri Gereja Katedral.
Beberapa teks doa berbingkai juga disimpan, ketika itu, Bahasa Latin masih digunakan sebagai bahasa ibadat resmi dan sang imam masih membelakangi umat. Di sudut lain, kasula-kasula dalam berbagai bentuk tersimpan dalam lemari antik, diantaranya kasula model kuno lima warna hingga kasula tiga rangkap yang tempo dulu digunakan uskup. Kasula itu sendiri merupakan pakaian terluar yang dikenakan iman dalam perayaan di Gereja-Gereja Kristen bertradisi Barat.
Jam buka Museum adalah setiap hari Senin, Rabu dan Jumat pukul 10.00- 12.00 WIB. Kunjungan di luar jam yang sudah ditentukan perlu membuat kesepakatan terlebih dahulu.
Jejak Walisongo di Cilincing
Bila dibandingkan dengan tempat sejarah lainnya, akses menuju Masjid Al-Alam di Cilincing, Jakarta Utara, cukup sulit. Namun, pengunjung bisa menggunakan busTransJakarta koridor 10, Tanjung Priok-PGC dan turun di halter terakhir. Setelah itu ada dua pilihan, yakni naik Metromini 23 atau Mikrolet 14 dan turun di perempatan Cilincing. Dari sana, bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik ojek, jaraknya sekitar 600 meter.