SOROT 384

Kalijodo Selayang Pandang

Kawasan Kalijodo
Sumber :
  • Danar Dono - VIVA.co.id

VIVA.co.id –  "...Selama berabad-abad, ini tempat paling hiruk pikuk di Jakarta saat malam tiba. Di sini, sejak dulu, terlestari kebiasan-kebiasaan imigran Tionghoa menemukan jodoh, bukan untuk hidup bersama selama-lamanya, tapi sekadar berhibur diri sambil menikmati nyanyian-nyanyian klasik Tiongkok dinyanyikan oleh para ca-bau-kan."

img_title Janji Ahok Bangun Masjid di Kalijodo Dipenuhi Djarot

Paragraf di atas merupakan nukilan novel berjudul "Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa" karya Remy Sylado. Terbit pada 1999, novel ini menceritakan kisah cinta antara Tinung - seorang perempuan Betawi yang berprofesi sebagai seorang ca bau kan - dan Tan Peng Liang, seorang pengusaha tembakau dan candu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam bahasa Hokkian, ca bau kan berarti perempuan - yang saat zaman kolonial diasosiasikan dengan pelacur, gundik, atau perempuan simpanan orang Tionghoa.

img_title Kunjungi Kalijodo, Djarot Tergoda Main Ayunan

Balakangan, novel yang berkisah tentang latar budaya Tionghoa peranakan di Hindia Belanda pada kurun waktu 1930-an hingga pascakemerdekaan tahun 1960-an ini banyak diperbincangkan.

Prosa itu kembali menjadi bahan diskusi setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berniat ‘meratakan’ Kalijodo, tempat yang disebut-sebut Remy Sylado dalam novelnya tersebut sebagai lokasi orang-orang ‘mencari jodoh’.

img_title Bakal Digusur, Tak Semua Warga Tol Kalijodo Dapat Rusun

http://media.viva.co.id/thumbs2/2010/05/22/89843_remy_silado_berbicara_dilihat_martin_aleida_663_382.jpg

Remy Sylado, pengarang "Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa"

Berawal dari Peh Cun

Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, mengatakan, sesuai namanya, sejak zaman Belanda, Kalijodo dikenal sebagai tempat orang untuk mencari pasangan. Menurut dia, letaknya yang berada persis di bantaran sungai membuat wilayah ini selalu ramai dikunjungi muda-mudi kala itu.

Ia menuturkan, pada era 1930-an, Kalijodo dikenal dari kebiasaan warga keturunan Tionghoa yang menggelar perayaan Peh Cun. Dalam perayaan itu, ada pesta air. Baik laki-laki maupun perempuan menaiki perahu dan saling melemparkan kue.

"Perempuan dan laki-laki saling timpukan (lempar) kue kacang hijau. Kalau (laki-laki dan perempuan) saling timpukan itu namanya jodoh. Makanya dinamakan Kalijodo," ujar Ridwan kepada VIVA.co.id, Rabu, 17 Februari 2016.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, Peh Cun adalah salah satu festival penting dalam kebudayaan dan sejarah China. Peh Cun adalah dialek Hokkian untuk kata pachuan yang artinya mendayung perahu.

Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek. Salah satu tradisi dalam perayaan Peh Cun adalah pesta air. Pesta air itu diikuti oleh muda-mudi laki-laki dan perempuan yang sama-sama menaiki perahu melintasi Kali Angke.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut