- Dokumentasi Pribadi Taufik Basari
Simak Pertaruhan Hidup dan Mati
Baca juga:
Pertaruhan Hidup dan Mati
Pada pagi 12 Mei 1998, Taufik sempat hadir dalam aksi mahasiswa di kampus Universitas Trisakti di Jakarta, sebagai bentuk dukungan dari mahasiswa UI. Namun tak lama setelah kembali ke kampus UI, Taufik mendapat kabar ada mahasiswa Trisakti tertembak.
Taufik kembali ke kampus Trisakti untuk memberikan dukungan solidaritas bagi mahasiswa yang tertembak pada esok hari. Dia turut mengantar jenazah Hendrawan, seorang mahasiswa Trisakti yang ditembak aparat ke pemakaman.
Taufik bersama para mahasiswa yang lain tak dapat menerima kematian mahasiswa yang ditembak itu. Tetapi mereka bertekad untuk tidak berhenti mengobarkan semangat perlawanan kepada pemerintah dengan kembali turun ke jalan.
Puncak kerusuhan di Jakarta terjadi pada 14 Mei 1998. Taufik dan beberapa mahasiswa sengaja turun ke jalan untuk mengurangi aksi vandalisme warga. “Kami sempat menghalangi massa yang ingin membakar toko, yang kami ketahui masih ada orang di dalamnya. Meski sulit untuk menghalau massa, dengan bantuan warga sekitar, kita berhasil menyelamatkan beberapa nyawa,” ujar Taufik mengingat kembali momen bersejarah itu.
Ketika massa mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR selama beberapa hari sejak 19 Mei 1998, sempat beredar isu bahwa tentara akan menyerbu gedung Parlemen dan menyapu para mahasiswa. Mahasiswa berinisiatif menyusun peta jalur evakuasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pada 21 Mei 1998, Soeharto pun menyatakan berhenti sebagai Presiden.
Sebagian mahasiswa menganggap perjuangan selesai ketika Soeharto tak lagi menjadi presiden, yang kemudian digantikan Bacharuddin Jusuf Habibie. Sebagian yang lain menilai perjuangan belum selesai karena militer masih menguasai kekuatan politik dan reformasi belum tuntas. “Saya termasuk kelompok yang merasa perjuangan belum tuntas,” kata Taufik.
![]()
Taufik Basari bicara di Mahkamah Konstitusi. Foto: Dokumentasi Pribadi Taufik Basari
Setelah Soeharto mengundurkan diri, Taufik masih aktif dalam pergerakan mahasiswa, termasuk dalam aksi yang kelak dikenal dengan Tragedi Semanggi, dua peristiwa protes masyarakat terhadap pelaksanaan dan agenda Sidang Istimewa MPR yang mengakibatkan warga sipil tewas.
Peristiwa pertama dikenal dengan Tragedi Semanggi I yang terjadi pada 11-13 November 1998, masa pemerintah transisi Indonesia, yang menyebabkan tewasnya 17 warga sipil. Kejadian kedua dikenal dengan Tragedi Semanggi II terjadi pada 24 September 1999, yang menyebabkan tewasnya seorang mahasiswa dan 11 orang lain di seluruh Jakarta serta melukai 217 orang.
Taufik masih mengingat peristiwa dalam Tragedi Semanggi I, ketika dia harus mengangkat seorang mahasiswi yang ditembak peluru karet lalu masuk selokan dan masih diinjak-injak tentara. Dia dan teman-temannya segera membawa mahasiswi itu ke Rumah Sakit Jakarta, yang letaknya di sebelah kampus Universitas Atma Jaya. Mahasiswi itu terpaksa dioperasi di selasar rumah sakit karena kamar penuh pasien.
Simak Perjalanan Berikut Taufik