Derita Manusia Kelas Dua

Ilustrasi perkosaan
Ilustrasi perkosaan
Sumber :
  • VIVAnews/Adri Prastowo

VIVA.co.id – Bangunan itu berdiri persis di tepi jalan salah satu desa di Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur. Dinding bangunan terbuat dari anyaman bambu yang lazim disebut gedek.

Sementara itu, bagian atap menggunakan asbes. Tak ada semen, tegel, apalagi keramik. Hanya tanah yang menjadi lantai bangunan seluas sepertiga lapangan bulu tangkis ini.

"Rumah" yang memanjang itu dibelah menjadi dua. Di sisi kiri, ada sebuah meja kusam yang berada di pojok ruangan. Peralatan memasak tampak berserakan di atasnya.

Sementara itu, di sisi kanan terlihat dua tempat tidur yang terbuat dari bambu. Dua ruangan ini hanya dipisah lemari dan meja kecil. Televisi 21 inci yang bertengger di atas meja kecil tersebut menjadi satu-satunya "barang mewah" di rumah ini.

Awalnya, bangunan ini adalah kandang bebek. Namun, oleh si empunya, Zainul, kandang ini disulap jadi tempat tinggal, lantaran ada warga yang meminta untuk tinggal di kandang bebeknya tersebut.

Adalah seorang ibu berinisial SR yang memohon agar diperbolehkan tinggal di kandang yang baru diperbaiki ini. Sebab, ibu dua anak ini diusir dari kontrakannya gara-gara NR, anak gadisnya yang masih berusia 14 tahun mengandung di luar nikah.

Nur Azizah, keponakan Zainul, menuturkan, keluarga NR mulai tinggal di kandang tersebut sejak dua bulan lalu. Menurut dia, NR diusir dari kontrakan setelah diketahui berbadan dua.

Ia dan pamannya kasihan, sehingga mengizinkan kandang bebek itu dijadikan tempat tinggal sementara.

Selanjutnya...Korban Perkosaan

Baca juga:

Sorot Bagian 2:

Sorot Bagian 3:

Korban Perkosaan

Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah nasib yang menimpa NR dan keluarganya. Gadis yang masih belia ini diusir oleh warga gara-gara berbadan dua akibat dirudapaksa. Ia hamil karena diduga diperkosa oleh S (46) dan U (21), warga desa setempat.

Kala Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa menjenguknya, NR hanya menunduk dan diam di pelukan aktivis perempuan yang mendampinginya. Duduk di tepi ranjang bambu, mata NR nanar dengan tatapan kosong.

Halaman Selanjutnya
img_title