- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Tak diketahui persis siapa yang mendahului. Namun keributan itu terbukti pecah tak jauh dari barikade polisi yang berjaga. Diawali ribut-ribu mulut, muncullah aksi saling lempar batu.
![]()
Massa Front Pembela Islam (FPI) saat melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD DKI Jakarta, 24 Maret 2015. (VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi)
Situasi selanjutnya berkembang hingga penyerangan atas kelompok FPI di sebuah rumah makan yang menyebabkan sejumlah orang terluka. Dan terakhir muncul aksi balas dendam dengan perusakan disertai pembakaran atas dua sekretariat GMBI di Bogor dan Ciamis.
Alhasil seteru dua kubu, FPI dan GMBI, mengemuka. Masing-masing pihak pun kukuh membantah menjadi penyebab awal mula bentrok. "Yang pertama menyerang GMBI. Di lapangan itu, (GMBI) sudah membawa yang namanya senjata tajam, balok dan lain sebagainya," kata Sekretaris Dewan Syuro FPI Jakarta Novel Bamukmin, Kamis, 19 Januari 2017.
"FPI yang memulai. Ini harus dibuka fakta karena kita terfitnah terus. Kalau kita benar pelaku, saya siap bertanggungjawab penuh," sanggah Ketua Umum GMBI, Muhamad Fauzan.
Apa pun itu, bentrok antar ormas di Bandung hari itu telah memperpanjang catatan kelam praktik ormas yang kerap berulah. Gaya arogan dan tindak tanduk bak preman itu kembali dipertontonkan secara terbuka ke masyarakat.
Jejak Paramiliter
Sejak lampau kehadiran ormas di Indonesia bukanlah cerita baru. Harus diakui kelompok-kelompok sipil telah lahir jauh lebih tua dari Indonesia.
Mereka tumbuh untuk membantu proses kemerdekaan lewat ikatan keinginan terbebas dari penjajahan. Negara yang masih kekurangan pasukan militer akhirnya menerima kelompok-kelompok ormas ini. Implikasinya adalah militer mendapatkan pasukan cadangan lewat kelompok-kelompok yang ada di masyarakat.
Salah satu contoh yang bisa dirujuk adalah Barisan Ansor Serbaguna atau Banser. Ormas yang lahir dari Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ini sudah ada sejak tahun 1937. Dan tentunya, kehadiran kelompok ini tak bisa luput dari sentuhan kebutuhan militer saat itu.
"Tujuan Banser berdiri tidak lepas dari tujuan Gerakan Pemuda Ansor, yakni dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, NKRI," kata Komandan Satuan Koordinasi Wilayah Banser Jawa Timur Abid Umar.