- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Lalu ada juga ormas FKPPI (Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI yang lahir pada tahun 1978 oleh Surya Paloh. Dan selanjutnya ada juga Pemuda Panca Marga yang lahir pada tahun 1981 lewat tangan Sarwo Edhi Wibowo, Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang tak lain ayah dari Ani Yudhoyono.
Lalu apakah hanya itu? Tentu tidak. Sekali lagi, ragam ormas paramiliter ini begitu banyak dan hadir dengan beragam nama. Kesamaan mereka adalah adanya afiliasi dengan pemerintah, dan garisnya jelas, paramiliter, serta diciptakan untuk menjaga kelanggengan politik penguasa, contohnya seperti kabar pembantaian anggota PKI oleh Pemuda Pancasila di beberapa wilayah.
"Makanya jangan heran kalau PPM itu seragamnya kaya tentara, karena yang mendirikan adalah tentara dan pembinanya ya tentara," kata Sekjen Pemuda Panca Marga Saharudin Arsyad menjelaskan ciri singkat organisasi mereka.
Hingga kemudian waktu bergulir dalam era reformasi. Masa keemasan Soeharto dan kroninya pun runtuh. Diakui, gejolak ini ikut mempengaruhi konstelasi mereka yang tergabung dalam ormas paramiliter. Beberapa memilih menutup diri dan selebihnya memmbentuk ormas lain.
Entah itu mengatasnamakan agama, masyarakat, himpunan tertentu dan lain sebagainya. Namun demikian, kini konsep alat politik yang dulu menjadi bibit awal lahirnya ormas justru kini mengalami sedikit pergeseran.
Pergeseran itu berkaitan dengan kebutuhan perut. Sebab, beberapa ormas yang membumi di masyarakat, justru menjadi ruang wadah bagi kelompok yang tertindas, terabaikan dan mungkin tidak diterima di masyarakat. Sebab itu, maklum kemudian, beberapa beranggapan kelompok-kelompok ini tak ubahnya kumpulan preman.
Bedanya mereka tertata, terorganisir dan lebih memiliki posisi tawar ketika hendak dijadikan alat politik oleh penguasa atau oknum tertentu. Namun memang intinya, kelompok-kelompok ini ada tak lebih karena urusan perut awalnya.
Karena itu, jika pun terjadi bentrokan, penelusuran akan mengungkapkan bahwa masalah kelompok ini adalah masalah kebutuhan perut. Seperti berebut lahan parkir, pengamanan wilayah, upeti kendaraan dan lain sebagainya.
"Masalahnya adalah perut. Bagaimana cara mereka mengisi perutnya yang lapar. Cuma itu penyebabnya kok, tidak ada yang lain," kata Sekjen Pemuda Panca Marga Saharuddin Arsyad.