- Antara/ Rezza Estily
VIVA.co.id – Hari masih pagi. Namun, belasan pekerja sudah terlihat sibuk di salah satu hanggar milik PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Di antara mereka, ada yang sedang mengebor aluminium. Ada juga yang sedang mengukur dan memotong blok logam putih keperakan itu.
Sementara itu, sisanya mengelas dan memastikan pengerjaan ‘spare part’ pesawat sudah sesuai pesanan.
Blok aluminium tampak menumpuk di pojok ruangan. Cetakan rangka pesawat juga terlihat di dalam ruangan seluas lapangan bola yang terletak di Jalan Padjadjaran nomor 154, Cicendo Husein Sastranegara Kota Bandung, Jawa Barat ini. Sejauh mata memandang, hanggar Tooling Shop Aerostructure PT DI ini didominasi oleh aluminium beragam bentuk dan ukuran.
Dari jauh terlihat ada kerumunan. Ternyata, Sulistiyanto (59), salah seorang karyawan yang terbilang senior di PT DI tengah dikelilingi sejumlah siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sedang magang di perusahaan ini. Sambil memegang operator bor mesin, ia terlihat menjelaskan sesuatu kepada para siswa tersebut.
"Saya masuk 8 Oktober 1981. Masuk pendidikan enam bulan di Tooling Design untuk mendukung kegiatan produksi pesawat," ujar Sulistiyanto kepada VIVA.co.id, Kamis, 26 Januari 2017.
Ia menuturkan, sama seperti perusahaan lain, PT DI juga sempat oleng terkena imbas krisis ekonomi pada 1997. "Semua perusahaan mengalami itu karena imbas krisis moneter. Hampir semua yang bareng satu diklat habis. Dari sekitar 15 orang, sekarang sisa tinggal dua," ujarnya mengenang.
![]()
Suasana pabrik PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung, Jawa Barat. (VIVA.co.id/Suparman)
Irlan Budiman mengamini. Manajer Hukum dan Humas PT DI ini mengatakan, krisis ekonomi global pada 1997 berdampak langsung pada kondisi perusahaan. "Isu politisnya tak lepas dari krisis yang menghentikan program N250 pada tahun 1998. PT DI mulai terpuruk dengan adanya kebijakan IMF untuk menghentikan program bantuan dana kepada PTDI,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 26 Januari 2017.
Untuk bisa bertahan dan agar perusahaan tetap bisa jalan, PTDI membuat sejumlah program. Upaya itu dilakukan agar perusahaan tersebut tetap bisa bertahan. Salah satunya membuat mesin pencetak panci.