SOROT 438

Kembalinya Kegembiraan Masa Kecil

Sejumlah murid sekolah dasar memainkan permainan anak tradisional Maluku, Toki Gaba-gaba, di arena Pameran Hari Pers Nasional (HPN) dan Maluku Expo 2017, Lapangan Merdeka, Ambon, Maluku
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Embong Salampessy

Ketersediaan lahan jadi salah satu alasan mereka jarang memainkan permainan tradisional. Jikapun mereka menemukan area yang cukup luas, pilihannya adalah bermain sepakbola.

img_title Ingin Rasakan Permainan Tradisional, Kunjungi Desa Candimulyo Madiun

Doni pun tak menyangkal, permainan game online lebih diminati ketimbang permainan tradisional. Meskipun di sekolah, permainan tradisional juga diajarkan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terlupakannya dolanan masa kecil di era gadget juga diakui sejumlah orangtua. Holong Sinaga (45), warga Depok, menyebut anak-anak lebih sering bermain game online di warnet.

img_title Paling Seru, 10 Permainan Tradisional Indonesia Ini Wajib Kamu Coba

"Pada main di warnet terus. Tiap hari goceng-goceng (lima ribu rupiah)," tutur orangtua Doni itu.

Dia lalu membandingkan dengan situasi di masa kecilnya. Saat itu, Holong lebih sering bermain bersama di lapangan. Kebersamaan dengan teman di ruang terbuka dinilainya lebih seru dan mengasyikkan. 

img_title Ini Manfaat Permainan Tradisional untuk Tumbuh Kembang Anak

Yuliani (35), orangtua Restu, juga merasakan era gadget lebih memudahkan anak untuk bermain yang serba praktis. Di lingkungan sekitar rumahnya, sudah tidak pernah lagi dimainkan permainan tradisional.

"Paling anak-anak melakukannya di sekolah, karena guru-guru yang mengajarkan," ujarnya kepada VIVA.co.id.

Namun, psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi, mengatakan, ada alasan lain orangtua tidak memberikan mainan tradisional kepada anak. Satu di antaranya karena pertimbangan bahan yang digunakan.

"Misal dulu ada mainan masak-masakan yang terbuat dari seng. Wajan dan sutilnya pakai seng. Karena tajam dikhawatirkan bisa melukai anak," tuturnya kepada VIVA.co.id.

Akhirnya, orangtua enggak memberikan mainan itu, tapi menggantinya dengan masak-masakan dengan versi lebih modern berbahan plastik yang aman bagi anak. Dulu ada kapal-kapalan yang ujungnya runcing, itu juga enggak diberikan lagi. 

Selain karena bahan yang digunakan enggak aman, minyak tanah untuk mengoperasikannya juga susah diperoleh. "Jadi enggak cuma karena gadget, tapi bisa karena keamanannya," ujar dia. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski mengakui ada mainan tradisional yang mulai terpinggirkan, menurut Anna, beberapa di antaranya justru sudah dimodernkan. Terdapat beberapa permainan yang kembali lagi dimainkan dengan versi lebih modern. 

"Misalnya gasing, itu kan tradisional. Tapi sekarang ada yang modern, jadi anak-anak tetap ada yang mainin," tuturnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut