- ANTARA FOTO/Embong Salampessy
Dalam permainan tradisional, dia melanjutkan, anak sejak dini dilatih untuk membangun komunikasi sesama teman seusianya, termasuk dengan orangtuanya.Â
Endi mencontohkan dalam permainan congklak yang dimainkan anak-anak bersama orangtua. Dalam setiap permainan tradisional yang dimainkan oleh anak-anak kecil telah membuka ruang komunikasi antara sang anak dan orangtua.
Kondisi itu juga diamini oleh Farida, salah satu guru SDN Rawajati 06 yang ditemui VIVA.co.id di lokasi pameran mainan tradisional anak.Â
Menurut Farida, anak-anak yang sejak dini sudah terbiasa dengan permainan tradisional, akan terlatih menjadi siswa yang kreatif serta mampu menanamkan jiwa solidaritas dan kekompakan.
Â
Psikolog anak, Anna Surti Ariani, melihat, meski beberapa permainan tradisional kurang diminati, di sisi lain ada usaha untuk memodernkan dolanan nusantara itu. Sebut saja permainan ular tangga, Â yang kini ada variasinya.
Melalui kombinasi beberapa pendekatan, Anna melanjutkan, ular tangga juga mengajarkan kebaikan, seperti menabung, asuransi, dan lainnya.
Bahkan, negara sekelas Amerika Serikat, memperlakukan permainan tradisional itu dengan sangat baik. "Saya pernah melihat pameran di Washington DC. Saya diberi tahu teman, jangan pergi ke sana kalau belum ke museumnya," ujar budayawan Putu Wijaya.
Awalnya, Putu akan menemukan koleksi-koleksi spektakuler. Namun, begitu memasukinya, ia sangat terkejut. Karena di gedung mewah dengan peralatan canggih itu, Putu Wijaya menemukan mainan yang pernah dimainkannya di waktu kecil
Dia sempat bertanya dalam hati, mengapa negara superpower memelihara mainan yang dinilai remeh temeh itu?Â
Putu pun merenung, ada filsafat, ada pendidikan, ada keakraban lingkungan di balik permainan tradisional itu. Namun, saat kembali ke Tanah Air, mainan itu hampir tidak ada lagi.Â
"Mungkin ada di gudang-gudang, tapi pasti sudah dibuang, jadi sudah tidak ada tempat lagi," tuturnya.
Selanjutnya, mengenalkan kembali permainan tradisional
Mengenalkan Kembali
Mengembalikan dan mengenalkan kembali permainan tradisional di era modern memang tak semudah membalik telapak tangan. Selain faktor gengsi hingga kepraktisan memainkan permainan modern yang kian berkembang, peran keluarga dinilai sangat dibutuhkan.
Banyak upaya bisa dilakukan. Dari pameran, hingga memasukkan dalam kurikulum pengajaran di sekolah. Bahkan, kalangan pebisnis juga bisa terlibat, di antaranya dengan mengembangkan permainan yang berbasis dolanan tradisional.