SOROT 438

Kembalinya Kegembiraan Masa Kecil

Sejumlah murid sekolah dasar memainkan permainan anak tradisional Maluku, Toki Gaba-gaba, di arena Pameran Hari Pers Nasional (HPN) dan Maluku Expo 2017, Lapangan Merdeka, Ambon, Maluku
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Embong Salampessy

Budayawan dan sastrawan Putu Wijaya menyebut, bukan salah anak jika memilih permainan modern. Orangtua juga terlibat. Kenapa, karena dolanan tradisional akrab dengan lingkungan murah dan gampang dibuat.

img_title Mirip Banget! 5 Permainan Squid Game 2 Ini Ada di Indonesia

"Dolanan dekat dengan pohon kelapa, rerumputan, pohon pisang. Tapi, mencari daun pisang saja sudah tidak bisa," ujarnya kepada VIVA.co.id.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rasa dan keinginan untuk mencari mainan yang akrab dengan lingkungan, menurut Putu, kini jadi "mahal". Bahkan lebih mahal dibanding mainan pabrik. 

img_title Kampung Lali Gadget, Bikin Anak-anak Lupakan Gadget dan Beralih pada Permainan Tradisional

Kondisi ini, Putu melanjutkan, menunjukkan zaman sudah dikepung bisnis untuk "memusnahkan" dolanan anak. Mirisnya, sebagian orangtua pun mencoba untuk menolong anaknya dengan cara yang tidak layak. 

"Dan anak itu merasa lebih gengsi kalau main buatan pabrik," tuturnya.

img_title Cara Starbucks Perkenalkan Kembali Permainan Tradisional Indonesia

Selanjutnya, sarat makna

Sarat Makna

Kondisi miris dolanan bocah nusantara itu memang banyak terjadi di perkotaan. Meski tidak semua redup di berbagai kota Tanah Air, tak dipungkiri, permainan tradisional semakin jarang digemari.

Sikap sebagian orangtua yang lebih berpikir modern dan instan, dinilai ikut berperan. Walaupun, perkembangan teknologi yang cepat, juga memicu anak mudah "terinspirasi" permainan yang dinilainya lebih maju dan menantang.

Akibatnya, anak terlalu asyik dengan gadget atau game online, ketimbang memainkan dolanan yang banyak melibatkan kebersamaan antarteman. Pun terhadap permainan yang bisa melibatkan orangtua mereka secara emosional. Congklak misalnya. 

Menurut Endi, sikap praktis sebagian orangtua itu tidak seharusnya dilakukan. Kalau itu yang dilakukan, akan menciptakan kesenjangan antara orangtua dan anak. 

"Karena nanti sudah tidak akan ada lagi komunikasi yang baik antara orangtua dan anak,” ujarnya.
 
Padahal, kata kolektor mainan tradisional anak itu, setiap jenis permainan tradisional anak itu memiliki makna yang luar biasa dalam filosofi kehidupan. Bahkan, permainan tradisional anak memiliki kekuatan batin yang berdampak positif bagi perkembangan serta pertumbuhan sang buah hati. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sorot Permainan Tradisional Anak

Melatih kehidupan, kecerdasan mental, dan emosional strategi, adalah sebagian di antara manfaat yang didapatkan. Permainan tradisional yang dilakukan bersama-sama juga mengajarkan untuk hidup saling menghargai perbedaan sejak dini. Selain juga membentuk karakter. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut