SOROT 438

Kembalinya Kegembiraan Masa Kecil

Sejumlah murid sekolah dasar memainkan permainan anak tradisional Maluku, Toki Gaba-gaba, di arena Pameran Hari Pers Nasional (HPN) dan Maluku Expo 2017, Lapangan Merdeka, Ambon, Maluku
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Embong Salampessy

"Memang kalau tidak hari libur pengunjungnya sepi. Ramai saat libur akhir pekan atau libur panjang anak sekolah," kata Redy Kuswanto, public relations Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Anak, Yogyakarta ditemui VIVA.co.id, Jumat 3 Maret 2017.

img_title Mirip Banget! 5 Permainan Squid Game 2 Ini Ada di Indonesia

Museum yang berdiri sejak 2008 yang diinisiasi oleh Rudi Koren selaku pemilik itu bertujuan agar dolanan anak tetap lestari. Generasi muda pun tidak kehilangan jati diri karena tidak lagi mengenal budayanya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, sayangnya, misi mulia museum itu kini terancam. Kontrak museum itu telah habis dan pengelola Taman Budaya Yogyakarta enggan memperpanjang.

img_title Kampung Lali Gadget, Bikin Anak-anak Lupakan Gadget dan Beralih pada Permainan Tradisional

"Ya, sebenarnya kami tinggal menunggu diusir saja karena kontrak habis tahun 2011 dan tidak bisa diperpanjang,"ucap Redy.

Sorot Permainan Tradisional Anak

img_title Cara Starbucks Perkenalkan Kembali Permainan Tradisional Indonesia

Sungguh ironis, karena koleksi dolanan anak di museum itu yang lebih dari 18 ribu jenis, baik dari Indonesia maupun luar negeri terancam tergusur. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

"Dari keliling ke luar negeri, Pak Rudi mempunyai koleksi hingga 300 mainan anak dan hingga 2016 ada 18 ribu mainan anak. Para duta besar dari negara sahabat juga sering membawakan atau menghibahkan mainan tradisional dari negaranya," ungkapnya.

Sepinya pengunjung museum, kata Redy, juga sejalan dengan semakin sulitnya menemukan dolanan anak yang dijual oleh perajin, akibat serbuan mainan anak dari plastik impor dari China. Belum lagi maraknya penggunaan gadget untuk main game di kalangan anak-anak.

"Pembuat dolanan anak sudah hampir punah, karena tidak bisa untuk hidup. Orangtua yang mau praktis memilih mainan plastik dengan harga murah dan lebih menarik," katanya.

Keinginan untuk melestarikan permainan tradisional sebenarnya bukan hanya sampai di situ. Upaya untuk audiensi dengan Dinas Pendidikan terkait kurikulum yang mengadopsi pembelajaran dolanan anak juga jadi agenda. Meskipun hingga saat ini upaya audiensi itu belum terealisasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Upaya memperkenalkan permainan tradisional di Yogyakarta sebenarnya tidak hanya lewat museum. Dusun Pandes, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, bahkan dijadikan kampung wisata dolanan anak.

Dusun Pandes yang terletak di Jalan Parangtritis Km 5 atau sekitar 25 menit perjalanan dari pusat kota Yogyakarta itu, secara kasat mata tak beda dengan dusun lainnya di Yogyakarta.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut