SOROT 438

Kembalinya Kegembiraan Masa Kecil

Sejumlah murid sekolah dasar memainkan permainan anak tradisional Maluku, Toki Gaba-gaba, di arena Pameran Hari Pers Nasional (HPN) dan Maluku Expo 2017, Lapangan Merdeka, Ambon, Maluku
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Embong Salampessy

Putu Wijaya bahkan menyebut, upaya menggelar pameran permainan tradisional, seperti yang digelar di Bendara Budaya Jakarta, sangat bermanfaat. Meski ia ragu, apakah masih ada anak-anak yang mau memainkan permainan tradisional. 

img_title Mirip Banget! 5 Permainan Squid Game 2 Ini Ada di Indonesia

"Kalau tidak ada, kita akan kehilangan sejarah," tuturnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, kehilangan duit memang celaka, tapi kehilangan sejarah lebih dari air mata. Anak cucu bakal tidak akan tahu lagi jika di masa lalu ada ribuan permainan tradisional. 

img_title Kampung Lali Gadget, Bikin Anak-anak Lupakan Gadget dan Beralih pada Permainan Tradisional

Lalu, apa yang harus dilakukan? Putu optimistis masih ada harapan. Pameran dolanan tradisional dinilai bisa menginspirasi untuk membuat sebuah rumah atau museum yang mungkin sangat mahal. 

Tapi, di dalamnya juga ada sejarah yang sangat mahal dan tidak akan hilang. Berharap ada yang terinspirasi bahwa bangsa ini memerlukan sebuah museum, yang secara sistematis akan menjaga dan melestarikan permainan tradisional.

img_title Cara Starbucks Perkenalkan Kembali Permainan Tradisional Indonesia

"Harus ada institusi yang bisa mengamankannya, supaya tidak terhapus dari sejarah," tuturnya.

Tidak hanya itu, di lingkungan sekolah, upaya melestarikan permainan tradisional sangat mungkin dilakukan. Siswa-siswa di sekolah dasar bisa mulai dikenalkan dolanan khas Tanah Air.

Farida, guru SDN Rawajati 06 pun sudah terbiasa memperkenalkan berbagai permainan tradisional kepada murid-muridnya. Upaya itu dilakukan agar anak-anak sejak dini sudah terbiasa dengan permainan-permainan yang memiliki interaksi sosial sesama teman sejawatnya. 

“Terakhir, saya itu memperkenalkan kepada anak-anak mainan bentengan. Mereka itu senang sekali, di situ mereka happy dan itu sangat melatih kreativitas dalam bermain,” ujarnya.

Bahkan, ia berharap pemerintah dapat memasukkan berbagai jenis permainan tradisional anak itu ke dalam kurikulum pelajaran di sekolah-sekolah. Upaya itu dianggap penting untuk melatih serta mendidik anak-anak dalam budaya bermain yang sehat dan positif.

“Sekarang ini mungkin sudah ada beberapa pelajaran yang membahas tentang permainan-permainan tradisional ya. Misalnya dalam pelajaran PLBJ,"ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta itu hanya mempelajari permainan atau budaya yang berasal dari ibu kota negara saja. Padahal, mainan tradisional jumlahnya banyak sekali, dan masing-masing daerah memiliki. 

Menurut Farida, bila permainan tradisional bisa masuk dalam muatan Seni, Budaya, dan Keterampilan (SBK), akan dapat membantu perkembangan motorik anak-anak. "Jadi, tidak sebatas dibahas teori saja, harus ada praktiknya,” katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut