SOROT 440

Tergusur di Tengah Jalan

Salah satu bentuk mobil pedesaan
Sumber :
  • VIVA.co.id/Shintaloka Pradita Sicca

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), dari total penjualan pabrik ke diler atau wholesales secara nasional jumlahnya mencapai 1,22 juta unit per Januari 2014. Angka ini disebutkan melebih target Gaikindo saat itu yang diprediksi hanya 1,2 juta unit.

img_title Modifikasi yang Satu Ini Bukan Cuma Gaya, tapi Ada Manfaatnya

Segmen LCGC di pasar otomotif nasional ternyata sanggup mencapai 51.180 unit. Artinya, jika LCGC tak ada, kemungkinan penjualan mobil pada 2013 tidak akan mencapai angka yang ditargetkan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi tersebut karena daya tarik LCGC, yakni dengan harga lebih terjangkau. 

img_title Wah, Ada Bayi Namanya Mirip Mobil Pedesaan

Selanjutnya, Sesunyi Pedesaan 

img_title Kendaraan Pak Tani Ikut Kontes Modifikasi

Sesunyi Pedesaan

Membiasnya program mobil pedesaan menjadi LGCG memang menjadi isu menarik. Gagasan dan pembahasan mobil pedesaan pun kian sunyi.  

Kementerian Perindustrian saat itu berdalih mobil murah pedesaan beda dengan mobil industri atau mobil murah komersial. Kementerian itu menyatakan, mobil murah yang dikembangkan ada yang diperuntukkan bagi individu dan ada yang diposisikan bagi angkutan pedesaan. 

Untuk mobil pedesaan, Kemenperin mengakui, saat itu tak berjalan lantaran dari sisi komersial belum ada industri yang bersedia mendanai.
 
Kemenperin memang sempat mendapat anggaran untuk riset dan ditugasi membangun mobil pedesaan. Tapi, program mobil pedesaan memang tak ada yang tertarik mendanai. Kemenperin kemudian memutar otak dan menggandeng PT Inka untuk pengembangan mobil pedesaan.

Namun, belakangan tugas itu diserahkan ke Kementerian Riset dan Teknologi. PT Inka diminta oleh menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk fokus pada bisnis intinya. 

Ikhwal polemik mobil murah beberapa tahun lalu, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan, mengatakan, saat itu tidak ada program kendaraan untuk masyarakat desa. 

Tapi, saat itu digagas program mobil untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Makanya, ujar I Gusti, program saat itu dinamakan Kendaraan Bermotor Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2) atau tenar dengan LCGC. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

I Gusti berdalih, tujuan program KBH2 waktu itu adalah memberi kesempatan kepada masyarakat penghasilan rendah, yang bukan hanya untuk masyarakat desa. 

"Masyarakat desa itu kan juga banyak yang berpenghasilan tinggi kan," ujar I Gusti di kantornya, Jumat 17 Maret 2017. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut