SOROT 468

Peritel Dunia Dihantam Badai

Suasana toko Polo Ralph Lauren di Fifith Avenue, New York, sebelum ditutup.
Sumber :
  • REUTERS

VIVA.co.id – Kalau jalan-jalan ke Kota New York, kurang lengkap rasanya bila tak mampir ke Fifth Avenue. Kawasan ramai turis ini disebut "Surganya Belanja". Sederet butik maupun peritel kelas dunia berjejer di sana. Sebut saja Bergdorf Goodman, Tiffany & Company, Louis Vuitton, Gucci, Armani, Polo Ralph Lauren, dan lain-lain.

img_title Beras Fortifikasi Dipastikan Tak Menggeser Beras Premium, Mendag Budi: Pangsa Pasarnya Beda!

Toko-toko itu menampilkan busana-busana mewah kelas atas dengan dekorasi yang wah, sanggup membuat pengunjung berkantung tebal jadi "silap mata". Para peritel besar ini yang jadi salah satu motor penggerak ekonomi New York sehingga berjuluk "Kota yang Tak Pernah Tidur."

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, kemeriahan di Fifth Avenue itu tampak mulai berkurang. Belakangan ini toko-toko itu tampak tak seramai dulu. Ini yang membuat penjualan di sana lesu, bahkan sampai ada yang tutup.

img_title Penjualan EV Moncer dan Pelaku Ritel Masih Optimis, Airlangga Bantah Ekonomi RI Tengah Lesu

Contoh yang telak menimpa Polo Ralph Lauren, toko busana spesialis pria. Perusahaan induknya yang juga dikenal sebagai merek busana kelas atas, Ralph Lauren, April lalu menutup toko besarnya yang berlokasi di jalan Fifth Avenue and 55th Street itu. Tidak ada lagi terlihat awning warna biru dan bendera logo khas Polo Ralph Lauren di sebuah gedung megah yang berada persis di sudut jalan.

Tak ada pula alasan spesifik yang dilontarkan selain hanya menyatakan bahwa penutupan itu untuk "Memastikan bahwa kami tetap menjalankan distribusi dan pengalaman bagi konsumen secara tepat," kata Jane Nielsen, Kepala Eksekutif Keuangan Ralph Lauren, seperti yang dikutip harian The New York Times (NYT). 

img_title Menko Airlangga Minta Pengusaha Ritel Modern Bantu Kopdes Merah Putih Permudah Akses Barang Non-Subsidi

Padahal, gerai besar Polo di Fifth Avenue itu masih tergolong baru beroperasi, yaitu 2013. Sewa gedung untuk itu pun sangat mahal. Menurut New York Post, untuk sewa gedung seluas total 3600 meter persegi itu, Ralph Lauren harus meneken kontrak sewa selama 16 tahun senilai $400 juta (sekitar Rp5,3 triliun).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bila dirata-rata, harga sewa tahunan gedung yang harus dibayar sebesar $25 juta (Rp336,8 miliar) atau $68.493 (Rp922 juta) per hari. Belum ada yang berani menggantikan Ralph Lauren sebagai penyewa baru gedung semahal itu.

Beban ini tidak sebanding dengan pendapatannya. Dalam laporan triwulan yang berakhir pada 31 Desember 2016, revenue Ralph Lauren secara keseluruhan turun lebih dari 12 persen menjadi US$1,7 miliar. Maka, tak ada yang bisa dilakukan Ralph Lauren selain melakukan efisiensi, yaitu menutup puluhan gerai - termasuk yang di Fifth Avenue dan 125 pekerjanya di sana jadi korban PHK.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut