- ANTARA FOTO/Septianda Perdana
"Mereka bingung mau lewat mana kalau ke Jakarta. Nah, yang seperti ini kan kasihan," tuturnya. Dedi menyarankan, meski di gerbang tol diberlakukan pembayaran non tunai, petugas diharapkan tetap bisa menerima pembayaran secara tunai.
Bagi Budi Cahyono (40), warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan, penerapan transaksi non tunai cukup merepotkan. Apalagi, bila saldo di kartu uang elektronik tidak mencukupi. "Ribet, karena kalau saldo kurang, terhambat masuk tol," ujar Budi kepada VIVA.co.id.
Dia setuju penerapan transaksi non tunai di jalan tol. Namun, pengelola juga seharusnya bisa menyiapkan isi ulang di gerbang-gerbang tol.
Selain itu, Budi menambahkan, bila belum siap dengan teknologinya, pemerintah sebaiknya tidak menerapkan dulu kebijakan transaksi non tunai di jalan tol.
Pengguna e-toll lainnya, Fitri Almaidah (25), sependapat, fasilitas isi ulang kartu elektronik sebaiknya dipermudah dan diperbanyak. Karena, ia menilai, penggunaan e-toll lebih praktis dalam pembayaran.
Meskipun, dia menambahkan, antrean saat transaksi di gerbang tol masih saja terjadi. "Kalau dulu sebelum 100 persen e-toll, pakai e-toll enak banget, di gerbang tol enggak antre," ujarnya kepada VIVA.co.id. (art)